Share

Virus Korona Serang Perekonomian Thailand, Bath Terancam Jadi Mata Uang Terburuk 2020

Irene, Jurnalis · Jum'at 07 Februari 2020 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 07 20 2164880 virus-korona-serang-perekonomian-thailand-bath-terancam-jadi-mata-uang-terburuk-2020-LVQgAZzdcZ.jpg Bath Thailand (Reuters)

JAKARTA - Mata uang terbaik se-Asia tahun 2019 Baht Thailand kini menjadi salah satu yang terburuk di tahun 2020 sebagai imbas virus korona di China. China merupakan kunci penting perekonomian negara gajah putih tersebut.

Mata uang Baht melemah sekitar 4,1% terhadap dolar Amerika Serikat sejauh ini di tahun 2020. Angka ini merupakan setengah dari besaran kenaikannya terhadap mata uang greenback tersebut pada 2019, yang sebesar 7,9%.

 Baca juga: Thailand Akan Luncurkan Bursa Khusus Startup

Ekonom senior di bank investasi Prancis Natixis, Trinh Nguyen memandang ketergantungan ekonomi Thailand terhadap permintaan eksternal, utamanya dari China merupakan faktor salah satu faktor pemicu penurunan yang dialami negara dengan ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara ini.

Pendapatan pariwisata dari Tiongkok menyumbang sekitar 2,7% dari Produk Domestik Bruto (GDP) Thailand. Thailand setidaknya menerima 10,5 juta turis asal Tiongkok di tahun 2018. Sementara ekspor ke China bernilai 6% dari GDP Thailand.

 Baca juga: Kisah Dramatis Anjloknya Baht Thailand di 1997

"Inilah sebabnya kami memangkas perkiraan GDP menjadi hanya 2,2% tahun ini dan itu berarti bahwa Thailand sangat jauh dari target Bank Dunia sebesar 5% jika ingin mencapai status pendapatan tinggi dalam sekitar satu dekade," pungkas Nguyen, seperti dilansir Okezone dari CNBC, Jumat (7/2/2020).

Kementerian Pariwisata Thailand memperkirakan bahwa berkurangnya wisatawan dari Tiongkok akan mengakibatkan Thailand kehilangan pendapatan sekitar 50 miliar baht atau USD1,61 miliar atau Rp21,99 triliun (Kurs Rp13.662/USD).

Dalam upaya untuk meningkatkan ekonomi Thailand, Bank of Thailand secara mengagetkan memangkas suku bunga kebijakan ke level terendahnya sepanjang masa. Menanggapi hal ini beberapa ekonom menilai pemotongan ini tidak cukup untuk menyelamatkan perekonomian negara tersebut.

"Kami tidak berpikir satu pemotongan suku bunga akan cukup dalam mencegah perlambatan pertumbuhan, apalagi meningkatkan pertumbuhan," ujar Prakash Sakpal, ekonom Asia di bank Belanda ING.

Trinh Nguyen berpendapat kesempatan ini harus dimanfaatkan Thailand untuk membuat ekonominya lebih kompetitif. Thailand harus memanfaatkan merebaknya wabah virus korona ini untuk mengurangi ketergantungannya kepada negara tirai bambu China, misalnya dalam sektor pariwisata.

Thailand harus dapat mendiversifikasi sumber pendapatannya sehingga negara gajah putih tersebut dapat menghasilkan pertumbuhannya sendiri. Tidak hanya itu, Nguyen juga mengatakan Thailand harus lebih banyak berinvestasi.

"Kalau tidak, mereka terjebak dalam perangkap di mana terlepas dari segala hal yang mereka lakukan, mereka tidak dapat menghasilkan permintaan domestik yang berkelanjutan, terutama investasi dan konsumsi," kata Nguyen.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini