Bukan Virus Covid-19, Defisit Neraca Dagang Januari karena Harga Komoditas

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 17 Februari 2020 13:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 17 20 2169666 bukan-virus-covid-19-defisit-neraca-dagang-januari-karena-harga-komoditas-GD1vxdwH82.jpg Kontainer (Reuters)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan neraca perdagangan Januari 2020 yang mengalami defisit USD864 juta. Adapun aangka impor mencapai USD14,28 miliar sedangkan ekspor juga turun menjadi USD13,41 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit neraca dagang yang terjadi lebih disebabkan karena harga komoditas. Sepanjang Desember hingga Januari, harga komoditas rata-rata mengalami kenaikan khususnya yang non migas.

 Baca juga: Dampak Virus Korona bagi Perdagangan RI-China Belum Terasa di Januari 2020

Misalnya saja harga Minyak Sawit yang naik sekitar 8,44%. Sementara harga batu bara dan karet juga mengalami kenaikan masing-masing 6,5% dan 1,20%.

"Sebaliknya yang turun di antaranya nikel tembaga dan timah. Fluktuasi beberapa komoditas tentu pengaruh pada nilai ekspor dan impor Indonesia di 2020," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (17/2/2020).

 Baca juga: Dampak Virus Korona Belum Berpengaruh pada Neraca Perdagangan RI di Awal Tahun

Sementara itu, khusus untuk harga minyak justru mengalami penurunan sekitar 2,68%. Pada Desember 2019 harga minyak berada di angka USD67,18 per barel, turun menjadi USD65,38 per barel di Januari 2020.

"Selama Desember sampai Januari 2020 tentu banyak perkembangan harga terjadi misalnya harga minyak mentah Indonesia selama Desember 2019 ke Januari 2020 mengalami penurunan 2,68%," jelasnya.

 Baca juga: Menko Luhut Ungkap Upaya RI Tekan Defisit Neraca Perdagangan di Depan Bos IMF

Kecuk juga memastikan jika dampak virus korona belum terlalu terasa pada neraca perdagangan RI di Januari 2020. Mengingat, status darurat virus Korona baru ditetapkan pada akhir Januari.

Kecuk pun menjelaskan kronologi dari penyebaran virus korona. Pada tanggal 31 Desember dilaporkan ada virus Korona dari Wuhan dan baru diidentifikasi pada 3-5 Januari 2020.

Sebelumnya, pada tanggal 20 Januari beberapa negara mulai melakukan pengecekan suhu badan. Saat itu, WHO belum melakukan pembatasan terhadap virus Korona.

Sehari berselang, virus Korona baru memakan korban meninggal dunia. Karena semakin banyaknya korban, WHO menetapkan darurat virus Korona pada 31 Januari 2020.

"Saya harus tekankan bahwa ekspor dan impor pada Januari kalau kita lihat dari awal bulan. Karena tidak menyajikan mingguan. Karena itu belum terlihat di Januari. Efeknya baru kita lihat pada bulan Februari. Tapi tentu kita harus waspada," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini