Wejangan Sri Mulyani untuk Bos Pengelola Dana Sawit yang Baru Dilantik

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 02 Maret 2020 21:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 02 320 2177079 wejangan-sri-mulyani-untuk-bos-pengelola-dana-sawit-yang-baru-dilantik-xyekPUnhxZ.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melantik Eddy Abdurrachman sebagai Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Eddy menggantikan Dono Boestami sebagai Direktur Utama BPDPKS periode sebelumnya.

Selain Eddy, Sri Mulyani juga melantik Zaid Burhan Ibrahim sebagai Direktur Keuangan, Umum dan Manajemen Risiko pada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Lalu dilantik juga Nugroho Adi Wibowo sebagai Kepala Divisi Pengembangan Biodiesel pada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Hadir dalam acara tersebut sejumlah Menteri Kabinet Kerja. Seperti Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Baca juga: Minyak Kelapa Sawit RI Didiskriminasi Uni Eropa, Ini Saran Menko Airlangga

Dalam kesempatan tersebut, Sri Mulyani menitipkan pesan kepada Eddy Abdurrachman bahwa tugas dan tanggung jawab sebagai dirut baru sangat berat dan penuh tantangan. Sebab, berkaca pada 2019 industri sawit mengalami tekanan yang cukup berat, dimana harga CPO jatuh sampai di bawah harga ke ekonomiannya.

Hal ini tentu sangat berdampak pada harga tandan buah segar di tingkat petani. Pemerintah kemudian mengambil kebijakan untuk tidak memberlakukan pungutan untuk meringankan beban industri kelapa sawit.

Oleh karena itu, untuk mengurangi kelebihan stock Crude Palm Oil (CPO) pemerintah telah mengambil kebijakan untuk memberlakukan program (B30) mulai 1 Januari 2020 sebagai salah instrumen stabilisasi harga. Program ini berhasil mengangkat harga sampai di atas harga ke ekonomiannya.

Baca juga: Ekspor Minyak Sawit Kalsel Capai Rp36 Miliar, Begini Hitung-hitungannya

“Saat ini harga CPO di atas USD 750 per ton dan telah dikenakan pungutan kembali karena harga sudah di atas batas," ujarnya dalam acara Pelantikan di Kantor kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (3/3/2020).

Sri Mulyani juga meminta kepada Eddy untuk mewaspadai pelemahan ekonomi dunia sebagai dampak perkembangan virus novel korona terhadap permintaan CPO dunia. Mengingat dalam hal ini Tiongkok sebagai importir terbesar kedua dari CPO Indonesia

“Sesuai arahan Presiden, program peremajaan harus dilakukan untuk 500 ribu HA dalam waktu tiga tahun. Saya ingin agar peremajaan menjadi fokus,” jelas Sri Mulyani..

BPDPKS bisa menggandeng penguatan pembiayaan untuk peremajaan sawit dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Prosedur peremajaan kelapa sawit juga telah dipermudah, dari sebelumnya terdapat 14 syarat, menjadi 8 syarat. Selanjutnya, sesuai arahan Komite Pengarah agar dipermudah lagi menjadi 2 syarat.

Sebagai penutup, Sri Mulyani mengharapkan untuk proses peremajaan dapat dipercepat dengan dukungan berbagai pihak. Mengingat percepatan peremajaan akan dapat meningkatkan produktivitas kebun dan meningkatkan kesejahteraan petani.

"Keberhasilan peremajaan juga akan menjaga ketersediaan bahan baku biodiesel (B30) dengan harga yang lebih murah. Selain itu, juga dapat meningkatkan pasokan pengembangan energi lanjutan B30 menjadi green diesel, green gasoline dan green fuel untuk menuju kemandirian energi nasional”, jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini