JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengajak perusahaan migas Norwegia untuk kembali mengembangkan hulu migas Indonesia, termasuk turut berpartisipasi pada penawaran wilayah kerja migas tahun 2020 yang akan ditawarkan April.
“Kami mengundang perusahaan Norwegia untuk memulai lagi eksplorasi dan produksi migas di Indonesia. Norwegia dapat mengulangi keberhasilan Statoil selama partisipasinya dalam mengeksplorasi migas Indonesia. Perusahaan Norwegia lainnya dapat mengambil kesempatan untuk bergabung dengan bisnis migas di Indonesia karena industrinya masih menarik,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Ego Syahrial seperti dikutip laman Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (5/3/2020).
Baca Juga: Gantikan Minyak, Potensi Gas Dimanfaatkan untuk Domestik
Indonesia memiliki potensi migas yang cukup menjanjikan. Wilayah kerja migas Indonesia mencapai 750.000 km persegi. Cadangan terbukti minyak Indonesia sebanyak 3,8 miliar barel dan gas 77 TSC. Produksi migas Indonesia mencapai puncaknya pada 1977 dan 1995. Setelah tahun 1995, produksi minyak mulai menurun. Sebaliknya, produksi gas meningkat. Ditargetkan pada tahun ini, produksi minyak mencapai 755.000 barel per hari, sedangkan produksi gas sebesar 6.6670 mmscfd.
“Sudah menjadi tugas kita, baik Pemerintah maupun perusahaan minyak untuk mencapai target produksi. Kami percaya, banyak dari kita yang akan bekerja keras mempertahankan produksi,” katanya.
Diakui Ego, Indonesia mengalami sejumlah tantangan untuk mencapai target produksi. Antara lain fasilitas atau teknologi yang digunakan termasuk lama. Selain itu, pergeseran paradigma dari transformasi analog ke digital. “Lebih dari 69% lahan produksi di Indonesia telah berusia lebih dari 30 tahun, sedangkan sisanya sebanyak 31% berusia di bawah 30 tahun,” papar Ego.
Baca Juga: Produksi Minyak Ditargetkan Tembus 1 Juta Barel/Hari pada 2030, Bisa?
Untuk meningkatkan produksi migas, Indonesia melaksanakan berbagai strategi, seperti mempertahankan tingkat produksi saat ini dengan mengubah sumber daya menjadi produksi, mempercepat EOR serta meningkatkan eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru.
“Norwegia yang merupakan salah satu negara sahabat, dikenal dengan inovasi teknologinya. Industri migas Indonesia harus mencari informasi terbaru mengenai hal ini,” tegas Ego.