Maskapai Bisa Kehilangan Rp1.609 Triliun Jika Virus Korona Kian Meradang

Vania Halim, Jurnalis · Jum'at 06 Maret 2020 18:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 06 320 2179345 maskapai-bisa-kehilangan-rp1-609-triliun-jika-virus-korona-kian-meradang-mxBt1oTtZl.jpg Penerbangan (Shutterstock)

JAKARTA - International Air Transport Association (IATA) menyatakan maskapai global kehilangan USD113 miliar atau Rp1.609 Triliun (Rp14.242 per USD) dalam penjualan bila virus korona terus menyebar. Kerugian ini akan sama dengan krisis keuangan global 2008.

IATA memperingatkan bahwa virus korona meningkatkan perkiraan dampak kerusakan pada penerbangan. Maskapai penerbangan dapat kehilangan 19% dari bisnis jika virus korona tidak berhenti dalam waktu dekat.

Apalagi, dalam dua minggu terakhir, IATA memprediksi maskapai kehilangan penjualannya hingga USD30 miliar.

 Baca juga: Maskapai Penerbangan Inggris Bangkrut Imbas Wabah Virus Korona

Melansir dari CNN, Jakarta, Jumat (6/3/2020), Sementara itu untuk maskapai di Asia Pasifik bisa kehilangan sebesar USD58 miliar atau Rp826 triliun.

"Maskapai penerbangan di Eropa dan Asia akan menanggung rasa sakit," kata IATA.

Apabila virus berhenti, ekonomi di seluruh dunia akan turun cepat, total kerugian bisa dibatasi hinga Rp899 (USD63 miliar). Saat ini virus korona atau Covid-19 sudah mengakibatkan 3.300 orang meninggal dunia dan lebih dari 94.000 kasus di seluruh dunia.

 Baca juga: Realisasikan Insentif Tiket Pesawat dan Hotel, Sri Mulyani Intensifkan Koordinasi

Pembatasan perjalanan dan kurangnya permintaan dari konsumen menyebabkan lusinan maskpai membatalkan penerbangan ke dan dari China. Penerbangan transatlantik, Eropa, dan Amerika Serikat juga dibatasi.

Maskapai Inggris Flybe pada Kamis lalu karena turunnya permintaan membuatnya collapse. Seementara itu maskapai penerbangan Skotlaandia Loganair mengatakan akan mengambil alih 16 rute Flybe dalam beberapa bulan mendatang.

Direktur Pelaksana Fitch Ratings Josef Pospisil menyatakan sebagian besar maskapai memiliki neraca yang cukup kuat untuk menghadapai goncangan permintaan disebabkan virus korona. "Mungkin akan ada beberapa pemain kecil, pemain regional yang mungkin terpukul keras," kata Josef.

Maskapai lemah yang tidak dapat memperoleh dukungan dari investor atau pemerintah akan mengalami nasib yang sama seperti Flybe dan menjadi target pengambilalihan terutama di Eropa. Direktur Jenderal IATA Alexandre de Juniac menjelaskan jasa penerbangan lain kemungkinan akan mencari perlindungan kebangkrutan dari bisnis akan berpengaruh ke sejumlah sektor termasuk permintaan penumpang kembali setelah krisis berlalu, posisi tunai berbagai maskapai, dan panjangnya wabah.

"Jika durasinya sebanding dengan wabah SARS di masa lalu atau H1N1 yang mencapai empat sampai lima bulan, maka industri akan mengalami krisis. Apabila berlangsung lebih lama, akan lebih sulit untuk jumlah yang lebih besar bagi jasa penerbangan," ujar de Juniac.

American Airlines juga membatalkan penerbangan internasional karena penurunan permintaan yang tajam, kata CEO American Airlines Doug Parker.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini