Sri Mulyani: Meski Inflasi Rendah tapi 2 Juta Lebih Pekerja Di-PHK

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 04 Mei 2020 16:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 04 320 2209006 sri-mulyani-meski-inflasi-rendah-tapi-2-juta-lebih-pekerja-di-phk-eueU68MtYg.jpg Sri Mulyani (Okezone)

JAKARTA - Rendahnya inflasi bukan berarti ekonomi Indonesia baik-baik saja dan tanpa tekanan. Apalagi di tengah Covid-19 ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, inflasi rendah tersebut juga diiringi banyak pekerja yang terdampak dari virus corona baik itu di rumahkan maupun terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

 Baca juga: Dilema Inflasi Rendah saat Ramadhan, Harga Terkendali tapi Daya Beli Turun

Asal tahu saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi pada April 2020 sebesar 0,08%. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,10%.

"Meski inflasi masih terjaga di bawah 3% dan sampai hari ini sudah tercatat lebih dari 2 juta para pekerja yang terkena PHK," ujarnya dalam teleconfrencen, Senin, (4/5/2020).

 Baca juga: Jasa Angkutan Udara Turun, Transportasi Catat Deflasi 0,42%

Menurut Sri Mulyani, banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) maupun pekerja yang dirumahkan menyusul tak beroperasinya beberapa industri. Apalagi ditambah dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan pemerintah, membuat para pelaku usaha terpaksa menghentikan operasionalnya.

"Enggak ada lagi orang cium tangan. Bahkan ibadah di rumah-rumah ibadah. dampak ekonomi luar biasa dari sisi kegiatan ekonomi karena masyarakat tidak lagi keluar rumah," ucapnya.

Oleh karena itu lanjut Sri Mulyani, diperlukan langkah cepat segera agar dampak corona tidak semakin parah. Mengingat, virus corona juga berkembang dengan cepat.

 Baca juga: Harga Gula hingga Bawang Merah Jadi Pemicu Inflasi

Dari sisi kesehatan misalnya, jumlah yang positif terkena corona terus bertambah. Sementara dari sisi sosial ekonomi banyak masyarakat yang terdampak akibat adanya corona ini.

Salah satu yang menjadi sorotan pemerintah adalah pekerja sektor infomral seperti para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Selain para pekerja para pengusaha pun mulai terkena dampaknya, banyak industri yang harus tutup karena pandemi corona ini.

"Ini dampak kesehatan dibutuhkan langkah-langkah tepat untuk dijadikan bantalan di sektor kesehatan, sosial ekonomi dan sektor keuangan," ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, rendahnya inflasi ini membuktikan dua hal. Pertama adalah, inflasi rendah ini membuktikan adanya penuruanan pada daya beli masyarakat.

Menurut pria yang kerap disapa Kecuk,penurunan ini terjadi setelah adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan di beberapa daerah. Hal tersebut membuat daya beli masyarakat semakin menurun karena aktivitas dibatasi.

Sementara itu disisi lain, rendahnya angka inflasi ini juga membuktikan jika harga bahan pokok di bulan puasa dan di tengah pandemi corona ini masih terjaga. Ini juga membuktikan jika pasokan pangan lancar meskipun ada aturan PSBB.

"Terjaganya pasokan bahan pangan. Pemerintah sudha siapkan sejak awal, sehingga kalau kita lihat harganya sangat stabil sehingga pasokan pangan terjadi," kata Kecuk.

(rzy.-)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini