10 Perusahaan Tercatat Indonesia Masuk Daftar Asean Asset Class

Sabtu 13 Juni 2020 08:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 12 278 2228851 10-perusahaan-tercatat-indonesia-masuk-daftar-asean-asset-class-8ECc0Tfy3d.jpg IHSG (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Sebanyak 10 perusahaan tercatat di Indonesia masuk dalam kategori ASEAN Asset Class (aset berkelas). Ini adalah penilaian atas tata kelola perusahaan yang baik dan layak dilirik kalangan investor global yang dibuat ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS). Seleksi dilakukan terhadap 100 Perusahaan Tercatat (Publicly Listed Companies/PLCs) dengan kapitalisasi pasar paling besar di tiap negara.

ACGS dibuat dalam rangka mendukung upaya untuk meningkatkan kepercayaan investor atas kualitas perusahaan di regional ASEAN. Hasil penilaian ’ASEAN Asset Class’ tahun 2019 dilakukan berdasarkan kinerja tahun buku yang berakhir pada tahun 2018. Hasilnya, ada 10 Perusahaan Tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang masuk daftar ASEAN Asset Class, dengan nilai 97,5 ke atas, dan terdapat peningkatan sebesar 25% jika dibandingkan pada tahun 2017 yaitu sebanyak 8 perusahaan.

Baca Juga: Mantul, 10 Emiten Indonesia Masuk Daftar Asean Asset Class 

Menariknya, tujuh dari 10 Perusahaan Tercatat BEI tersebut bergerak di bidang perbankan. Ini menunjukkan bank-bank publik di Indonesia memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Hal tersebut penting, mengingat bank menjadi tempat nasabah mempercayakan dananya.

Kesepuluh Perusahaan Tercatat tersebut berturut-turut berdasarkan skor tertinggi, yaitu PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Antam Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT XL Axiata Tbk, dan PT Maybank Indonesia Tbk.

Baca Juga: Daftar 10 Emiten dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar, Beda dengan Akhir Tahun 

Selain itu, ada tiga Perusahaan Tercatat di luar kategori ASEAN Asset Class yang berhasil meningkatkan skornya secara signifikan, yaitu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk naik 20,73% dengan skor 74,04, PT Vale Indonesia Tbk naik 20,68% dengan skor 83,36 dan PT Adaro Energy Tbk naik 19,06% dengan skor 65,03. Hasil penilaian menunjukkan, praktik tata kelola yang baik dan pengungkapan, lebih dipengaruhi oleh sikap dari manajemen puncak perusahaan, dibanding ukuran perusahaan. Selain itu, ketersediaan peraturan yang lebih ketat juga berperan signifikan dalam penerapan praktik tata kelola yang baik.

Corporate Governance Expert (CG Expert) yang ditunjuk BEI untuk mewakili Indonesia di Forum ASEAN Corporate Governance tahun 2019, Angela Simatupang, yang merupakan CG Expert Indonesia sejak 2016, mengatakan, peringkat ACGS Indonesia yang dinilai dua tahunan secara rata-rata menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 0,3%, dari 70,59 pada tahun 2017 menjadi 70,8 pada tahun 2019. Skor tertinggi meningkat sebesar 3,9%, dari 109,61 menjadi 113,84. Namun, skor terendah menurun sebesar 8,12%, dari 40,9 menjadi 37,58.

ASEAN Corporate Governance Initiative yang diperkenalkan ASEAN Capital Markets Forum (ACMF) dibuat untuk meningkatkan standar dan praktik tata kelola perusahaan terbuka di ASEAN, memberikan visibilitas internasional yang lebih baik mengenai perusahaan terbuka di ASEAN yang memiliki tata kelola yang baik dan layak untuk menjadi target investasi, mendukung inisiatif ACMF lainnya, serta mempromosikan perusahaan di ASEAN sebagai aset yang berkelas. ACMF adalah forum regulator pasar modal di negara ASEAN.

Hasil penilaian ASEAN Corporate Governance Scorecard tahun 2019 juga menunjukkan terdapat tujuh perusahaan berhasil memperoleh skor di atas 100 dibandingkan tahun 2017 yang hanya tiga Perusahaan Tercatat. Menurut Angela, penilaian corporate governance terhadap 100 Perusahaan Tercatat dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut sudah mewakili 84,3% dari total kapitalisasi pasar BEI per 31 Maret 2019 dan 15,9% dari jumlah Perusahaan Tercatat di Indonesia.

Masing-masing negara ASEAN menunjuk Domestic Ranking Bodies (DRB) dan CG Expert untuk melakukan assessment terhadap perusahaan di ASEAN berdasarkan kriteria ACGS. Lima aspek penilaian yang dimasukkan dalam scorecard adalah hak pemegang saham, perlakuan yang adil terhadap pemegang saham, peran pemangku kepentingan, pengungkapan dan transparansi, dan terakhir tanggung jawab dewan komisaris dan direksi. Dalam hal ini DRB yang mewakili Indonesia adalah RSM Indonesia. Saat ini, terdapat 6 negara ASEAN yang ikut dalam inisiatif ini, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Pada tahun 2019, bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ADB (Asian Development Bank), dan RSM telah mengadakan berbagai sosialisasi mengenai praktik tata kelola dan pengungkapan yang diharapkan bagi Perusahaan Tercatat di Indonesia. Dan untuk mendukung peningkatan skor ACGS Perusahaan Tercatat Indonesia pada tahun mendatang, RSM didukung OJK, BEI, dan ADB telah merencanakan untuk mengadakan rangkaian sosialisasi mengenai praktik tata kelola dan pengungkapan yang baik bagi semua perusahaan di Indonesia. (TIM BEI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini