Penumpang Dibatasi, Tarif Bus Naik

Senin 15 Juni 2020 18:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 15 320 2230489 penumpang-dibatasi-tarif-bus-naik-meSzQS4dbL.jpg Terminal Bus. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) mengakui adanya kenaikan tarif bus karena pemberlakukan pembatasan jarak sehingga mengurangi kapasitas penumpang.

Menurut Ketua IPOMI Kurnia Lesani Adnan, kebijakan pembatasan kapasitas maksimal yang tidak boleh mengangkut hingga 100% serta penerapan protokol kesehatan membuat bus tidak dapat memberikan tarif seperti biasanya. Alhasil, kenaikan tarif pun tak bisa dihindari.

Baca Juga: Kacau! Biaya Rapid Test Lebih Mahal dari Tiket Bus

"PO SAN untuk trayek Blitar-Pekan Baru kelas Bisnis AC semula Rp480.000, kami sesuaikan dengan protokol kesehatan pembatasan kapasitas menjadi Rp700.000 (saat pembatasan masih 50%). Kelas eksekutif trayek Bengkulu-Jakarta dari Rp450.000 menjadi Rp675.000," tuturnya, dikutip dari Solopos, Senin (15/6/2020).

Menurutnya, ongkos penumpang itu masih lebih murah dari biaya rapid test yang hanya tersedia di rumah sakit tertentu dan mayoritas berada di kota. Karena itu, pengusaha bus mengeluhkan biaya rapid test yang berkisar Rp350.000 hingga Rp900.000, sehingga penumpang ragu untuk naik bus.

Baca Juga: Adaptasi Kebiasaan Baru di Transportasi Umum, Jangan Bicara Selama Perjalanan

"Belum lagi aturan DKI wajib SIKM [surat izin keluar masuk] yang prosesnya tidak jelas itu. Sekali lagi pemerintah berbicara masing-masing tidak satu kata," imbuh dia.

Menurut dia, biaya rapid test bisa lebih mahal dari biaya tiket bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Dia mencontohkan harga tiket PO SAN dengan rute paling jauh, yakni trayek Blitar-Pekan Baru, untuk kelas Bisnis AC hanya Rp480.000. Sedangkan kelas eksekutif trayek Bengkulu-Jakarta Rp450.000.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini