Ekonomi China Mulai Pulih, RI Ambil Peluang Ekspor

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 23 Juni 2020 13:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 23 320 2234864 ekonomi-china-mulai-pulih-ri-ambil-peluang-ekspor-8767tUaN4p.jpeg Ekspor-Impor Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mulai mencari strategi agar ekonomi tidak jatuh terlalu dalam. Misalnya adalah dengan mendorong produk ekspor ke negara yang ekonominya sudah stabil.

Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad mengatakan variatifnya rentang perbedaan proyeksi antar lembaga internasional menggambarkan ketidakpastian ekonomi yang tinggi di sisa tahun 2020 dan tahun 2021 mendatang.

Baca Juga: Banyak yang Nyinyir, Menko Luhut: 18% Ekonomi Dunia Dikuasai China

Oleh karena itu pemerintah perlu mengantisipasi jika situasi gejolak ekonomi global kembali terjadi, terutama jelang akhir tahun (dinamika politik AS) dan risiko gelombang kedua pandemi. Bahkan menurutnya, dari hampir semua mitra dagang utama Indonesia di negara-negara maju, hanya China yang diperkirakan akan tumbuh positif di triwulan II 2020.

"Apa yang harus dilakukan agar manfaatnya bisa juga ke permintaan ekspor produk Indonesia?," ujarnya di Jakarta, Selasa (23/6/2020).

Baca Juga: Berikut 6 Pasar di Jakarta dengan Sebaran Virus Corona Tinggi

Oleh karenanya, pemerintah harus ada upaya untuk mendukung ekspor. Terutama ekspor produk menuju China yang pasti permintaan ekspornya akan naik menyusul pemulihan ekonomi Tiongkok.

"Pemerintah harus ada upaya yang dilakukan untuk mendukung ekspor ke China sehingga saat mereka mulai pulih, permintaan ekspor mereka ke Indonesia juga naik," jelasnya.

Dia menambahkan, untuk mendorong ekspor, implementasi stimulus yang diberikan pemerintah menjadi hal yang sangat penting. Jangan sampai stimulus fiskla yang diberikan sebesar 4,2% dari PDB ini hanya wacana semata.

"Sudah berapa persen penyerapan stimulus sampai saat ini? Apa upaya yang sudah dilakukan untuk mempercepat stimulus agar sampai ke Masyarakat dan Dunia Usaha, kami nilai hasilnya Belum nampak," jelasnya.

Sebab, rendahnya penyerapan anggaran mempengaruhi daya beli serta berdampak pada sektor riil. Hal ini juga bisa menjadi indikator keberpihakan pemerintah pada sektor industri dalam negeri.

"Perlunya keberpihakan terhadap peningkatan daya saing dalam negeri," kata Kamrussamad.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini