Sepi Job, Seniman Campursari Cari Cuan di Bisnis Bonsai Kelapa

Jum'at 03 Juli 2020 14:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 03 320 2240658 sepi-job-seniman-campursari-cari-cuan-di-bisnis-bonsai-kelapa-wC1C2qjGi7.jpg Budidaya Bonsai oleh Seniman Campursari. (Foto: Okezone.com/KRJogja)

JAKARTA - Menjadi penjual tanaman hias sebenarnya bukan impian Joko Setyawan. Seniman campursari yang sehari-hari bergelut dengan pentas dan panggung ini memaksakan dirinya mengubah kebiasaan untuk bisa bertahan hidup di masa pandemi.

Ternyata, keseriusannya menekuni usaha sampingan itu membuahkan sukses. Hasil penjualan tanaman hiasnya mampu mensubstitusi pendapatan manggung yang kini sepi.

Ditemui di Dusun Getasan Desa Kaling Tasikmadu, akhir pekan lalu, Joko sedang menata tanaman bonsai kelapa. Dia juga merawat tunas-tunas kelapa yang tumbuh kerdil namun cantik dari batok kelapa yang dijadikan pot.

Baca Juga: Lagi Tren, Pria Ini Sulap Limbah Kayu Jadi Sepeda

Jika dilihat penampakannya, bonsai pohon kelapa tak ubahnya tanaman pada umumnya. Namun melihat proses budidayanya, ternyata cukup rumit. Sehingga, dia merasa pantas menjualnya dengan harga lebih tinggi jika dibanding tanaman hias pada umumnya. Apalagi pehobi botani pasti menganggap itu wajar.

“Membuat bonsai kelapa butuh kesabaran. Karena prosesnya memakan waktu berbulan bulan bahkan tahunan untuk menghasilkan bonsai kelapa yang eksotis. Kebetulan sudah enggak banyak job manggung orkes, sehingga sekarang beralih ke budidaya bonsai kelapa,” katanya, dikutip dari Krjogja, Jumat (3/7/2020).

'Baca Juga: Berawal dari Hobi, Kini Risky Jadi Pebisnis Ikan Cupang Tembus Pasar Eropa

Membonsai diawali penyiapan tunas kelapa. Kemudian tunasnya dibuka agar cepat tumbuh. Cara ini membuat daun tumbuh dengan ukuran mini. Untuk membuat potnya, batok kelapa dihaluskan kemudian diplitur sampai muncul warna cokelat mengkilat.

“Selanjutnya di taruh di pot dengan cara posisi kelapa bisa ditanam horizontal maupun vertikal sesuai selera kita. Posisi tanam ini akan berpengaruh pada pertumbuhan bonsai kelapa sendiri,” jelasnya.

Ide berjualan bonsai muncul dari saran teman-temannya sesama seniman. Di tatanan normal baru, seniman tak boleh hanya mengandalkan pendapatan dari panggilan pemilik hajatan. Apalagi, hiburan bukan lagi kebutuhan vital hajatan di masa pandemi covid-19. Sehingga, seniman perlu memiliki keahlian berwirausaha. Kebetulan, ia memiliki usaha sampingan berjualan buah kelapa di Pasar Legi Solo.

Selama pandemi, dirinya sudah menjual bibit tunas kelapa lebih dari 1.000 biji. Di beruntung pandemi Covid-19 tak menyurutkan minat pehobi botani di wilayah Soloraya. Promosi via daring membantunya mengenalkan dagangannya itu.

Per bibit untuk dibonsai dijual Rp15 ribu. Sedangkan bonsai setengah jadi Rp30 ribu. Dia menyebut komoditas ini makin dicari sehingga harganya potensial melambung.

“Bonsai sudah jadi Rp50 ribu per pot. Pembeli tinggal memeliharanya saja,” katanya.

Hafid Karyono, penggemar bonsai asal Karanganyar mengatakan pehobi botani menaruh perhatian pada bonsai kelapa. Selain mudah mendapat bahannya, juga murah.

“Penggemar dan penghobi bonsai kelapa sangat banyak. Itu bisa dilihat di Karanganyar sendiri juga sudah ada wadah komunitas bonsai dengan anggota juga cukup banyak,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini