Cerita Richard Branson, Cari Modal Rp21,6 Triliun untuk Selamatkan Maskapai Virgin Atlantic

Natasha Oktalia, Jurnalis · Rabu 15 Juli 2020 11:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 15 320 2246628 cerita-richard-branson-cari-modal-rp21-6-triliun-untuk-selamatkan-maskapai-virgin-atlantic-pSZ3c7L8ae.jpg Pesawat (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Miliarder dunia pemilik Virgin Atlantic Richard Branson menyuntikkan dana USD1,5 miliar atau setara Rp21,6 triliun (kurs Rp14.400 per USD) sebagai bagian dari penyelamatan bisnis maskapainya.

Dana ini merupakan kesepakatan penyelamatan yang telah disetujui yang dilakukan beberapa hari sebelum Virgin Atlantic kembali mengangkut penumpang.

Rencana rekapitalisasi ini akan dilaksanakan selama 18 bulan ke depan dan tentunya mendapatkan dukungan dari sejumlah pemegang saham besar termasuk Delta Air Lines (DAL) serta investor baru dan kreditor yang sudah ada.

Baca Juga: Demi Selamatkan Bisnis dari Covid-19, Richard Branson Jual Saham dan Pulau 

Dalam rencana tersebut pemegang saham yang ada akan memberikan kontribusi sebesar USD750,6 juta termasuk USD250 juta yang berasal dari Virgin Group.

Tidak hanya itu, Hedge Fund AS Davidson Kempner juga menyediakan tambahan sebesar USD188 juta dalam pembiayaan dan kreditor juga setuju untuk menunda pembayaran senilai USD562,5 juta.

Sebelumnya, Virgin pernah mengajukan peminjaman komersial USD626 juta dari pemerintahan Inggris. Demikian seperti dilansir CNN, Jakarta, Rabu (15/7/2020).

"Hanya sedikit yang bisa memperkirakan skala krisis Covid-19 yang telah kita saksikan dan tidak diragukan lagi, enam bulan terakhir adalah yang paling sulit yang kita hadapi dalam sejarah 36 tahun kita," kata CEO Virgin Atlantic Shai Weiss.

Virgin Atlantic baru mulai mengoperasikan penerbangan kargo sejak April kemarin dan berencana untuk memulai penerbangan penumpang kembali di 20 Juli. Perusahaan ini telah memberhentikan stafnya sebanyak 3.550 dan menutup pangakalannya yang berada di Bandara Gatwick London, lalu mengkonsolidasikan operasinya di London Heathrow dan Bandara Manchester.

Baca Juga: Tips Sukses Ala Richard Branson, Nikmati Apa yang Kamu Mulai! 

Adanya dampak pandemi ini membuat industri penerbangan global hancur hingga mengalami kerugian diperkirakan mencapai USD84 miliar. Menurut International Air Transport Association (IATA), sektor industri penerbangan diperkirakan akan pulih kembali pada 2023.

Seperti maskapai Qantas Australia mengkonfirmasikan bahwa mereka tidak akan mulai terbang ke tujuan internasional, kecuali Selandia Baru, hingga Maret 2021.

Tidak hanya itu, Virgin Atlantic, British Airways milik IAG, Easy Jet dan Ryanair telah melakukan 200 pemutusan karyawan dan memangkas sejumlah pemesanan terhadap pesawat baru.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini