Perusahaan Bertahan di Era Disrupsi Digital Diibaratkan Burung Phoenix, Apa Artinya?

Michelle Natalia, Jurnalis · Selasa 28 Juli 2020 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 28 320 2253404 perusahaan-bertahan-di-era-disrupsi-digital-diibaratkan-burung-phoenix-apa-artinya-jYInT2Xob0.jpg Ekonomi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Dalam menghadapi disrupsi ekonomi digital, bisnis-bisnis harus bisa beradaptasi dan berinovasi untuk survive. Head of Apps Oracle Indonesia Iman Muhammad menyebutkan bahwa bisnis yang bisa survive di tengah disrupsi ini bisa diumpamakan layaknya burung phoenix.

"Itu burung api legendaris dari mitologi Mesir yang bisa hidup hingga ribuan tahun, namun begitu mati, bisa bangkit kembali dan menjadi lebih kuat. Jadi, bisnis harus bagaimana untuk bisa bertahan seperti burung phoenix di era ini?," ujar Iman dalam konferensi virtual di Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Baca Juga: Ubah Bisnis, Jangan Pameran tapi Pengembang Jual Rumah Lewat Online 

Dia menyampaikan, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan perusahaan, khususnya untuk bagian HRD (Human Resources Development). Ketiga aspek itu adalah digital resilience, empathy, dan strong partnership.

"Sekarang kita lihat, bahwa transisi ke lifestyle digital ini bukan hanya soal interaksi yang berubah, tapi juga menggunakan teknologi digital untuk perubahan business environment. Di sinilah digital resilience dibutuhkan, perusahaan harus bisa beradaptasi dan mengadopsi teknologi baru dengan mudah dan juga membuat karyawannya merasa terlindungi dengan teknologi," jelas Iman.

Baca Juga: Rugi 6 Bulan, Maskapai hingga Hotel Bisa Tutup karena Corona 

E-commerce

Selain itu, menurut dia, perusahaan juga harus mengutamakan empati. Hal ini dilakukan dengan mengutamakan karyawannya. "Put your people first, perusahaan tidak bisa melulu bicara soal revenue, tapi juga empati pada kondisi dan kesejahteraan karyawan perlu diperhatikan," tambah Iman.

Dia menambahkan, zaman sekarang sudah menjadi zamannya membeli service. Oleh karena itu, perusahaan tidak perlu melakukan apa-apa serba sendirian.

"Sekarang sudah ada namanya SaaS (Software as a Service), jadi tidak perlu lagi membeli hardware, cukup beli servicenya. Makanya sekarang banyak SaaS, tinggal subscribe saja. Untuk subscribe ini, kita juga perlu partner yang strong, dan juga bagus sepak terjangnya di market. Ini kunci kita bisa maju ke depan menghadapi krisis," pungkas Iman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini