Share

Layaknya Obat, Stimulus Ekonomi Juga Miliki Efek Samping

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 26 Agustus 2020 16:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 26 20 2267847 layaknya-obat-stimulus-ekonomi-juga-miliki-efek-samping-6h5BLKLumi.jpg Rupiah (Shutterstock)

JAKARTA - Di tengah ekonomi yang terkontraksi akibat pandemi Covid-19, pemerintah berupaya menjaga kinerja ekonomi dengan pemberian stimulus. Dana untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pun tidak main main dengan total anggaran Rp641,17 triliun.

Namun, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan bahwa stimulus bisa memiliki efek samping yang perlu diwaspadai.

 Baca juga: Menko Airlangga Bocorkan Harga Vaksin Covid-19 dari China

"Semacam obat, stimulus ini juga memiliki efek samping yang sebetulnya kita juga harus berhati-hati, terlebih penyaluran stimulus belum optimal. Ada risiko yang membayangi meski belum terjadi," ungkap David dalam Webinar, Jakarta, Rabu (26/8/2020).

Dia menyampaikan, penyaluran stimulus yang masih terhambat sana sini memerlukan percepatan. Selain itu, bansos hanya natura, yang sebenarnya perlu dikombinasikan dengan transfer uang via rekening bank. Minat masyarakat untuk menggunakan fasilitas keringanan pajak juga masih kurang.

 Baca juga: Tenang, Menkeu Sudah Siapkan Anggaran Vaksin Corona 20 Juta Dosis

"Di sini yang penting sebenarnya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas. Kalau tidak, stimulus ini hanya sekadar menambal kekurangan uang, tapi tidak menambah produktivitas," tambah David.

Dia mengatakan, dengan banyaknya dana yang digelontorkan, tentunya ada risiko inflasi.

"Too much money chasing too few goods. Memang daya beli masyarakat bisa pulih dengan adanya stimulus, tapi kapasitas produksi belum pulih, sehingga ini akan mendorong konsumsi barang impor," terangnya.

Selain itu, ada risiko pelemahan kurs yang juga meningkat. Kelebihan suplai Rupiah bisa mendorong permintaan valas baik untuk impor, pembayaran utang luar negeri, atau spekulasi.

"Ini juga bisa meningkatkan potensi vicious cycle akibat outflow dana asing dari obligasi," tutur David.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini