JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang konsolidasi cenderung melemah sepekan ke depan. Hal ini setelah penguatan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
"Kami perkirakan IHSG akan bergerak dengan support di level 5,324 sampai 5,218 dan resistance di level 5,400 sampai 5,450," ujar Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee, Jakarta, Minggu (30/8/2020).
Baca juga: IHSG Sepekan Melesat 1,4% ke 5.346
Dirinya mengatakan, saat ini sentimen pasar saham akan dipengaruhi pernyataan dari Jerome Powell mengenai The Fed serta mundurnya Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.
Sebelumnya bank sentral AS berusaha mendorong ekonomi dan ketika inflasi mencapai 2 % maka the Fed mulai menaikan suku bunga. The Fed sekarang akan mengadopsi target inflasi rata-rata yang akan membuat bunga tetap rendah ketika inflasi naik di masa depan.
Baca juga: Jelang Akhir Pekan, IHSG Merosot 0,46% ke 5.347
"Perubahan pendekatan kebijakan Federal Reserve – The Fed yang disampaikan Jerome Powell punya inplikasi jangka panjang ke pasar keuangan. Inflasi akan di rata-rata sehingga butuh waktu lebih lama sebelum The Fed menaikan suku bunga. Hal ini punya inplikasi positif bagi pasar keuangan di jangka panjang," ujarnya.
DIrinya mengatakan, selain bunga yang rendah Fed diperkirakan terus mengelontorkan stimulus untuk mendorong ekonomi untuk mencapai target inflasi 2%. Sehingga ini mendorong perkiraaan panjangnya rezim suku bunga rendah.
Baca juga: IHSG Jeda Sesi I Turun ke 5.331
Lalu, mundurnya PM Jepang Shinzo Abe akibat alasan kesehatan membuat mata uang Yen menguat secara signifikan terhadap USD. Penerus Abe mungkin akan merubah kebijakan ekonomi dan stimulus Abenomics yang selama ini dilakukan. Yen sebagai mata uang safe haven mengalami penguatan.
"Hal ini mungkin tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Tetapi hal ini dapat mendukung penguatan nilai tukar Rupiah karena terjadi pelemahan USD di pasar," katanya.
Sedangkan di sisi internal Pemprov DKI Jakarta kembali melakukan perpanjangan PSBB transisi. Hal ini mendorong kemungkinan besar ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga mengalami pertumbuhan negatif.
Hal ini akan memperbesar kemungkinan Indonesia mengalami resesi. Upaya pemerintah pusat mendorong pertumbuhan ekonomi di semester kedua sangat di apresiasi pelaku pasar keuangan.
"Pemerintah pusat agresif melakukan belanja pemerintah dan mengucurkan bantuan pada masyarakat dan UMKM, dunia usaha atau korporasi. Pemerintah akan kembali mendorong proyek infrastruktur di semester kedua ini. Hal ini menimbukan harapan pertumbuhan ekonomi di Kuartal ke 4 akan kembali positif," katanya.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.