Hati-Hati! Ekonomi Kuartal III-2020 Bakal Minus jika Aktivitas Dibatasi

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 31 Agustus 2020 11:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 31 320 2270065 hati-hati-ekonomi-kuartal-iii-2020-bakal-minus-jika-aktivitas-dibatasi-KrPQvmCjNr.jpg PSBB Jadi Sentimen Negatif terhadap Pertumbuhan Ekonomi. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk kembali memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua pekan atau dari 28 Agustus sampai 10 September 2020. Kebijakan tersebut dinilai negatif di tengah perjuangan untuk memulihkan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data Treasury MNC Bank, Senin (31/8/2020), PSBB untuk membatasi penyebaran Covid-19 akan menjadi katalis negatif bagi Rupiah. Di mana saat ini Rupiah mengalami kenaikan hampir 1% selama pekan kemarin.

Baca Juga: Indonesia di Tengah Resesi, Orang Kaya Tak Lagi Nongkrong

PSBB juga bisa mengantarkan Indonesia ke jurang resesi karena pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 diperkirakan bakal kembali minus bila kegiatan ekonomi dan sosial masih dibatasi.

Di sisi lain, pemerintah berupaya sekuat tenaga agar kontraksi produk domestik bruto di kuartal II-2020 tidak berlanjut di kuartal III-2020. Pemerintah akan lebih agresif melakukan belanja negara dengan mengucurkan dana lebih besar lagi terutama di sektor UMKM dan dunia usaha atau koperasi sebesar Rp180 triliun.

Untuk minggu ini ada beberapa data yang akan menentukan pergerakan Rupiah. Pertama data inflasi yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik.

Di mana laju inflasi diperkiraan sementara akan berada minus 0,01%. Sementara inflasi tahunan diperkirakan berada di 1,375%. Jika terjadi, maka ini adalah yang terendah sejak tahun 2000.

Baca Juga: Erick Thohir: Mudah-mudahan Ekonomi Tak Minus 10%

Selanjutnya IHS Markit akan mengumumkan data aktivitas manufaktur yang dicerminkan oleh Purchasing Managers' Index (PMI) periode Agustus 2020. Perkiraan sementara PMI manufaktur Agustus 2020 naik menjadi 47.3.

Sementara itu, Rupiah yang ditutup menguat 28 poin atau 0,19% pada Jumat 28 Agustus naik ke posisi 14.632 per USD. Penguatan Rupiah terjadi seiring dengan tren pelemahan USD yang mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir.

Beberapa hal yang menekan pergerakan USD pekan kemarin antara lain, komentar dovish The Fed tentang kebijakan moneter barunya di Jackson Hole Fed 2020. Strategi baru The Fed kali ini cukup agresif yang bertujuan untuk mengangkat lapangan kerja dan meningkatkan toleransi inflasi yang lebih tinggi agar dapat mendorong imbal hasil obligasi AS ke level yang lebih tinggi.

Jerome Powell menyampaikan bahwa bank sentral akan berusaha mencapai inflasi AS rata-rata 2% untuk memastikan pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Kemudian, pengunduran diri Perdana Menteri Shinzo Abe yang direspon positif oleh pasar. Keputusan itu telah membuat yen menguat secara signifikan terhadap USD.

Kedua hal ini mendukung penguatan rupiah karena terjadinya pelemahan USD di pasar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini