Ekonomi Negara Lain Mulai Pulih, Indonesia Jelang Resesi

Aditya Pratama, Jurnalis · Senin 21 September 2020 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 21 320 2281225 ekonomi-negara-lain-mulai-pulih-indonesia-jelang-resesi-YVwPA9mJCX.jpg Grafik ekonomi (Shutterstock)

JAKARTA - Kepastian pemerintah dalam menangani Covid-19 menjadi hal mutlak untuk memulihkan perekonomian nasional. Pasalnya, hal ini menjadi penting karena masyarakat kalangan menengah ke atas saat ini masih enggan mengeluarkan uangnya untuk konsumsi.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyebutkan, masyarakat kalangan menengah ke atas biasanya setiap tahun kerap mengganti handphone, mobil, membeli peralatan elektronik, hingga berwisata. Namun, hal ini baru akan terwujud kembali jika ada kepastian kapan Covid-19 berakhir.

 Baca juga: Atasi Covid-19, Faisal Basri: Ekonomi Bisa Pulih tapi Nyawa Manusia Tidak

"Karena kalau tidak mereka tetap tahan, mau ngopi di kafe aja enggak daripada nanti kena Covid. Artinya apa? Kepastian pemerintah untuk segera benar-benar mengendalikan Covid itu kunci utama kalau ingin termasuk tidak hanya investasi tapi juga konsumsi rumah tangga kembali recovery," ujar Enny dalam acara Market Review IDX Channel, Senin (21/9/2020).

Terkait resesi ekonomi dan terus meningkatnya angka positif Covid-19, Enny menyampaikan bahwa ada atau tidaknya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali di DKI Jakarta atau wilayah lain dapat dipastikan pertumbuhan ekonomi akan kembali negatif. Karena, leading indicator dari beberapa variabel makro sampai Agustus 2020 menunjukkan hasil negatif.

 Baca juga: 6 Fakta Resesi di Depan Mata, Nomor 2 Tantangan Besar

"Itu sangat mempunyai kualitas yang sangat erat dengan perkembangan Covid, karena begitu masih ada Covid semua aktivitas memang tidak full optimal dan terjadi high cost economy dan investasi baru pun masih negatif," kata dia.

Dia menyebut, dengan adanya peningkatan kasus Covid-19, yang sangat dikhawatirkan tidak sekadar pertumbuhan yang kembali minus, namun minusnya yang akan bertambah.

"Ini yang merisaukan kita bahwa tren kita berbeda sendiri dengan tren dunia, di mana tren dunia kuartal III sudah menurun kontraksinya sementara Indonesia bisa jadi semakin meningkat," ucapnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini