Daya Saing Asuransi Indonesia Kalah dari Thailand hingga Malaysia

Kunthi Fahmar Shandy, Jurnalis · Kamis 24 September 2020 15:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 24 320 2283129 daya-saing-asuransi-indonesia-kalah-dari-thailand-hingga-malaysia-ecSs26LgKO.jpg OJK (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan daya saing perusahaan asuransi Indonesia masih tertinggal. Jika dibandingkan di regional ASEAN, penetrasi asuransi di Indonesia masih kurang dari 2%.

"Ini masih rendah jika dibandingkan dengan penetrasi di negara ASEAN. Contoh Thailand sudah mencapai 4,99%, Malaysia 4,72% dan Vietnam 2,24%," kata Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi saat webinar LPPI di Jakarta Kamis (24/9/2020).

Baca Juga: 8 Keuntungan Asuransi yang Jarang Diketahui

Dia melanjutkan, daya saing industri asuransi dipengaruhi oleh dua faktor utama. Salah satu faktor yang mempengaruhi daya saing perusahaan asuransi umum dan reasuransi adalah dukungan permodalan. 

"Ini sebagai basis untuk menentukan kapasitas penyerapan risiko asuransi di dalam negeri," katanya.

Namun demikian, terutama untuk konteks perusahaan asuransi profesional kususnya menangani reasuransi, OJK melihat masih banyak gap yang cukup siginifikan dalam hal perbandingkan baik antara jenis perusahaan tersebut ataupun dengan perusahaan asuransi komersial (asuransi umum/asuransi jiwa).

Baca Juga: OJK Intip Aturan Main Insurtech di Negara Lain

Ini menjadi salah satu faktor penting minimnya atensi risiko asuransi di dalam negeri dan ini tentu mengarah juga ke defisit transaksi berjalan di sektor industri asuransi. Maka dari itu, lanjut dia, OJK mendorong konsolidasi antara pelaku industri asuransi dalam rangka membentuk perusahaan reasuransi domestik dengan dukungan kapasitas yang lebih besar agar dapat menyerap risiko asuransi secara lebih optimal dan mengurangi defisit transaksi berjalan pada industri asuransi.

"Kami juga melihat bahwa kondisi krisis saat ini adalah momentum yang tepat untuk memperkuat permodalan pelaku industri asuransi kususnya melalui konsolidasi," jelas Riswinandi. Kondisi pandemi ini juga menunjukan peran penting dari pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan daya saing pelaku industri asuransi nasional.

"Asuransi perlu memanfaatkan teknologi digital saat pandemic ini. Menurut kami ini krusial agar bisa membantu perusahaan asuransi dalam menjangkau calon nasabah dan dapat memberikan pelayanan optimal pada nasabah exsisting," tukas dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini