Share

Raksasa Migas Ramai-Ramai PHK, Setelah BP Kini Shell Pangkas 9.000 Karyawan

Giri Hartomo, Okezone · Kamis 01 Oktober 2020 11:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 320 2286636 raksasa-migas-ramai-ramai-phk-setelah-bp-kini-shell-pangkas-9-000-karyawan-olmjSSukaf.jpeg Karyawan di PHK (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Royal Dutch Shell akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada 7.000 hingga 9.000 karyawannya. Hal tersebut dilakukan untuk menanggapi tantangan termasuk penurunan permintaan minyak di tengah pandemi Covid-19.

Rencananya, langkah PHK akan dilakukan mulai 202 mendatang. Termasuk 1.500 orang yang mengambil redundansi secara sukarela.

Raksasa minyak itu mengatakan pemotongan akan diterapkan pada 2022 dan termasuk 1.500 orang yang mengambil redundansi sukarela.

Baca Juga: PHK Massal di Seluruh Dunia, Ekonomi Kian Sulit

Sebenarnya, tidak ada indikasi untuk melakukan PHK kepada para pekerjanya. Sebab, langkah tersebut terpikir setelah lima bulan setelah dilakukan pemotongan dividen untuk pertama kalinya sejak perang dunia kedua.

Kepala Eksekutif Shell Ben Van Beurden mengatakan PHK adalah hal yang benar untuk dilakukan bagi masa depan perusahaan. Karena Shell berusaha untuk menjadi bisnis energi tanpa emisi bersih.

Shell mempekerjakan 83.000 orang di seluruh dunia, termasuk 6.000 di Inggris Raya. Hal ini dikarenakan adanya penurunan keuntungan yang substansial sejak pandemi melanda.

Baca Juga: PSBB Jakarta, 200 Ribu Pekerja Restoran di Mal Terancam PHK

"Kami harus bertindak cepat dan tegas dan membuat beberapa keputusan keuangan yang sangat sulit untuk memastikan kami tetap tangguh, termasuk memotong dividen," kata Van Beurden mengutip BBC, Kamis (1/10/2020).

 

Hal tersebut terlihat dari penurunan laba bersih di kuartal I-2020 sebesar 46% menjadi USD2,9 miliar atau sekitar Rp43,15 triliun (mengacu kurs Rp14.900 per USD). Sementara pendapatan kuartal kedua turun lagi 82% menjadi USD638 juta atau sekitar Rp9,49 triliun.

Perusahaan itu mengatakan pendapatan kuartal ketiga diharapkan di kisaran USD800 juta hingga USD875 juta atau sekitar Rp11,9 triliun hingga Rp13,01 triliun

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Shell sedang melakukan upaya pemotongan biaya yang diharapkan dapat memberikan penghematan tahunan sebesar USD2 miliar hingga USD2,5 miliar atau sekitar Rp29,7 triliun hingga Rp37,19 triliun hingga pada tahun 2022.

Perusahaan minyak besar lainnya menghadapi tantangan serupa. Rival BP juga telah memotong dividennya dan baru-baru ini mengumumkan melakukan PHK 10.000 pekerjaan dari 70.000 tenaga kerja globalnya.

"Tapi sekeras apa pun, mereka sepenuhnya merupakan pilihan yang tepat untuk diambil dan Covid-19 telah menyerang kami dengan cara lain. Sayangnya, kami kehilangan enam karyawan dan enam rekan kontraktor karena virus," jelasnya.

Sebenarnya, Van Beurden menggambarkan program pengurangan pekerjaan sebagai proses yang sangat sulit.

"Sangat menyakitkan mengetahui bahwa Anda akhirnya akan mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa orang baik. Tetapi kami melakukan ini karena kami harus melakukannya, karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan demi masa depan perusahaan," jelasnya.

Dia mengatakan Shell harus menjadi organisasi yang lebih sederhana, lebih ramping, lebih kompetitif, lebih gesit dan mampu menanggapi pelanggan. Van Beurden menegaskan kembali bahwa Shell bermaksud menjadi bisnis energi tanpa emisi bersih pada tahun 2050 atau lebih cepat.

"Kami akan memiliki beberapa minyak dan gas dalam campuran energi yang kami jual pada tahun 2050, tetapi itu akan didominasi listrik rendah karbon, biofuel rendah karbon, itu akan menjadi hidrogen dan itu akan menjadi segala macam solusi lain juga," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini