6 Fakta Masker Kain SNI, Nomor 4 Tak Semudah Dibayangkan

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 03 Oktober 2020 09:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 02 320 2287513 6-fakta-masker-kain-sni-nomor-4-tak-semudah-dibayangkan-pnirnm1DAn.jpg Masker (Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah merancang standar nasional Indonesia (SNI) untuk masker. Hal ini berlaku bagi seluruh jenis masker.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melakukan langkah perumusan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) masker dari kain dalam rangka perlindungan masyarakat.

Kemenperin melalui Komite Teknis SNI 59-01, Tekstil dan Produk Tekstil mengalokasikan anggaran guna menetapkan RSNI masker dari kain dengan melibatkan seluruh pihak-pihak yang berkepentingan, seperti akademisi, peneliti, laboratorium uji, Satgas Covid-19 industri produsen masker kain dalam negeri.

 Baca juga: Masker Mau Dapat Label SNI, BSN: Bisa Cepat Bisa Lama

Oleh sebab itu, Jakarta, Sabtu (3/10/2020), berikut fakta-fakta soal masker ber-SNI:

1. Kemenperin Bersama BSN Menetapkan SNI Masker

Pada 16 September 2020, SNI yang disusun Kemenperin tersebut telah mendapatkan penetapan Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai Standar Nasional Indonesia (SNI) 8914:2020 Tekstil - Masker dari kain melalui Keputusan Kepala BSN Nomor No.408/KEP/BSN/9/2020.

“Penetapan SNI ini sejak diusulkan dalam Program Nasional Perumusan Standar (PNPS) sampai ditetapkan memakan waktu tidak sampai 5 Bulan, mengingat SNI ini merupakan kepentingan nasional dan kebutuhan yang mendesak,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

 Baca juga: Bagaimana Cara Masker Kain Dapat Label SNI?

2. Masker Kain Diklasifikasikan 3 Tipe

Dalam SNI 8914:2020, masker dari kain diklasifikasikan dalam tiga tipe, yaitu Tipe A untuk penggunaan umum, Tipe B untuk penggunaan filtrasi bakteri, dan Tipe C untuk penggunaan filtrasi partikel.

SNI tersebut mengatur beberapa parameter krusial sebagai proteksi, antara lain daya tembus udara bagi Tipe A di ambang 15-65 cm3/cm2/detik, daya serap sebesar ≤ 60 detik untuk semua tipe, dan kadar formaldehida bebas hingga 75 mg/kg untuk semua tipe.

Selanjutnya, ketahanan luntur warna terhadap pencucian, keringat asam dan basa, serta saliva. SNI 8914:2020 juga menetapkan kadar logam terekstraksi maksimum, ketahanan terhadap pembahasan permukaan minimum melalui uji siram, kadar PFOS dan PFOA pada masker kain yang menggunakan anti air, serta nilai aktivitas antibakteri minimum pada masker kain yang menggunakan antibakteri.

3. Sertifikasi 10.000 Alat Kesehatan, Menkeu Siapkan Rp163 Miliar

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, pembiayaan sertifikasi ini tidak akan mengubah pagu anggaran masing-masing kementerian lembaga. Rinciannya, kebutuhan anggaran tambahan tahun 2021 dalam rangka fasilitasi sertifikasi TKDN sebesar Rp163,5 miliar.

"Dengan dana tersebut akan dilakukan sertifikasi TKDN sekurang-kurangnya untuk 10 ribu produk farmasi dan alat kesehatan buatan dalam negeri," kata Askolani.

4. Cara Masker Dapat Label SNI

Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Halal Badan Standarisasi Nasional (BSN) Wahyu Purbowasito Setyo Waskito mengatakan, langkah pertama untuk mendapatkan sertifkat SNI hal pertama yang harus dilakukan adalah dilakukan pengujian pada produk dalam hal ini adalah masker. Jika lolos maka akan lanjut ke tahap selanjutnya, namun jika gagal maka diminta untuk diperbaiki.

“Ini kalau rilnya ya, misalnya punya produk masker. Mau mendapatkan sertifikat SNI. Pertama produknya diuji terlebih dahulu. Kalau sudah lolos lanjut. Kalau belum lolos ya diperbaiki dulu. Mutunya supaya sama kaya yang ada disitu. Itu butuh waktu sendiri kan. Tergantung,” ujarnya saat dihubungi Okezone.

Jika pengujian awal berhasil atau lolos maka tahap selanjutnya adalah mendaftarkan produk masker tersebut ke lembaga sertifikasi produk. Nantinya produk tersebut akan dilakukan pemeriksaan secara adminsitrasinya.

“Pengujian awal produknya sudah okai. Baru mendaftarkan ke lembaga sertifikasi produk. Lembaga sertifikasi produk itu nanti dia akan periksa secara administrasi dulu oh iya ada pengujian awal. Karena kan kalau enggak ada pengujian awal nanti pas mau disertifikasi gagal kan sayang banget. Jadi ada pengujian awal dulu,” jelas Wahyu.

Setelah itu, akan dilakukan pemeriksaan lagi untuk mengecek kesesuaian produk. Tujuannya adalah untuk memastikan jika produk yang dijual tersebut milik sendiri dan bukan meminjam barang orang lain.

“Pengujian awal itu nanti bisa menjadi kalau masih jangka waktu satu tahun masih dianggap oke. Setelah itu kan harus diperiksa nih, jangan-jangan pakai produknya orang bukan produknya sendiri. Kan harus dicek di pabriknya. Jangan-jangan cuma ganti label produknya orang,” kata Wahyu.

5. Berapa Lama Masker Dapat Label SNI?

Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Halal Badan Standarisasi Nasional (BSN) Wahyu Purbowasito Setyo Waskito mengatakan tidak bisa dipastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan lebel SNI. Karena berdasarkan pengalaman, setiap perusahaan memiliki waktu yang berbeda-beda.

Menurutnya, ada beberapa parameter yang dijadikan patokan lama atau tidaknya waktu mengurus lebel SNI. Misalnya dari jumlah produk yang harus diujikan ke laboratorium.

Semakin sedikit produk yang diujikan akan semakin cepat, sebaliknya jika banyak maka waktu yang dibutuhkan semakin lama. Selain jumlah produk, antrean dari pengujian lab juga mempengaruhi lama atau tidaknya mendapatkan lebel SNI.

“Pengujian ya tergantung itemnya kalau itemnya hanya satu mungkin cepet. Tergantung antrean juga tergantung parameternya berapa lama. Kalau parameternya cuma satu tapi ujinya tiga bulan kan bisa saja. Tergantung parameternya di situ bisa cepat bisa lama,” ujarnya kepada Okezone.

Menurut Wahyu, terbatasnya lab yang tersedia untuk menguji juga menjadi salah satu kendala. Sementara itu di sisi lain jumlah perusahaan yang mendaftar untuk mendapatkan standar SNI juga sangat banyak.

6. Biaya yang Dibutuhkan untuk Pengusaha agar Masker Berlabel SNI

Biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan lebel SNI ada dua jenis. Pertama adalah biaya yang dihitung satu produk yang kedua adalah borongan dengan jenis produk yang sama.

Namun dari dua jenis tersebut, biaya yang dikeluarkan dihitung berdasarkan dua hal. Pertama adalah biaya berdasarkan pengujian di laboratorium.

Masing-masing produk juga tidak sama antar satu dengan yang lainnya. Karena, makin banyak produk yang diuji makin banyak uang yang dikeluarkan, namun makin banyak lab yang bisa melakukan pengujian makin murah biaya yang dikeluarkan.

“Ada dua sisi yang dikeluarkan. Pertama adalah pengujiannya dulu. Pengujian ini kan butuh biaya juga. Ini tergantung parameternya. Makin banyak makin banyak keluar uangnya. Dan juga makin banyak labnya bisa kan kita enggak mengendalikan harga di sini jadi makin banyak yang bisa kan persaingan nih jadi turun gitu loh,” Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Halal Badan Standarisasi Nasional (BSN) Wahyu Purbowasito Setyo Waskito.

Selain itu, biaya juga memperhatikan tingkat kesulitannya dan juga bahan yang digunakanya. Artinya semakin sulit barang yang diujikan semakin mahal juga biayanya.

“Yang bisa mengujikan hanya sedikit ya mahal. Kalau pengujiannya sulit juga mahal. Tergantung bahan pengujiannya, kalau mahal otomatis mahal,” jelasnya.

Lalu yang kedua adalah biaya untuk sertifikasinya. Menurut Wahyu, biaya yang dikeluarkan ini adalah untuk lembaga sertifikasi melakukan survei ke pabrik atau gempat produksi produknya untuk melihat kesesuaian produknya dari dekat.

“Lembaga sertifikasi ini kan nanti akan melihat prosesnya, sistem manajemenya melakukan sampling dan lain sebagainya. Ini ada biaya juga. Ini juga beda-beda. Umumnya kalau yang sudah umum enggak mahal,” jelasnya.

Di sini juga antara satu produk dengan yang lainya memiliki tingkat biaya yang berbeda. Karena biaya yang dikeluarkan dilihat dari tipe produknya jika ongkos produknya sedikit biaya pengujian akan mahal.

“Ini juga tergantung dari tipe produknya kalau mahal banyak ya tentunya dibagi ongkos bikin produknya murah. Kalau ongkos produknya sedikit ya tentunya menjadi mahal,” kata Wahyu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini