18 Juta Santri dan 28 Ribu Pesantren Jadi Motor Penggerak Ekonomi Syariah

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 22 Oktober 2020 11:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 22 320 2297685 18-juta-santri-dan-28-ribu-pesantren-jadi-motor-penggerak-ekonomi-syariah-7hZpbNsuR2.jpg Pesantren dan Santri Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kerakyatan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemerintah mencatat ada 28.194 pesantren dengan 18 juta santri yang dapat menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, ekonomi syariah, dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan, pesantren tersebar luas di Nusantara, dan umumnya berada di pedesaan.

"Pesantren lahir mandiri, dibangun dengan swadaya masyarakat dan memberikan layanan terintegrasi sebagai lembaga pendidikan, layanan dakwah, dan pemberdayaan masyarakat," kata Ma’ruf Amin di Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Baca Juga: Jurus Wapres Geber Ekonomi Syariah Berbasis Pesantren

Dia melanjutkan, program Akselerasi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pesantren dan Komunitas diharapkan dapat mendorong kebangkitan UMKM dan mempercepat pemulihan ekonomi Nasional.

"Di antaranya melalui pengembangan lembaga keuangan syariah pesantren, pengembangan kewirausahaan santri (santripreneur), dan pengembangan sektor riil dan industri halal," katanya.

Baca Juga: Hari Santri, Pesantren Jadi Pusat Pengembangan Ekonomi Syariah

Saat ini, pngembangan keuangan syariah di pesantren dilakukan melalui Bank Wakaf Mikro (BWM) dan Baitul Maal Wat-Tamwil (BMT) yang keduanya berbadan hukum koperasi.

Nantinya, pesantren juga diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan ketahanan pangan. Dalam hal ini KNEKS bersama dengan Bank Indonesia mendukung program ketahanan pangan berbasis pesantren, seperti Urban Farming Pesantren, Green Waqf dan lain-lain.

Urban Farming Pesantren adalah program serupa khusus untuk pesantren yang berada di perkotaan yang memiliki lahan terbatas. Sedangkan Green Waqf merupakan program wakaf produktif di sektor pertanian dan perikanan yang hasilnya dimanfaatkan oleh pesantren dan masyarakat miskin sebagai penerima manfaat (maukuf alaih).

"Kedua program tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan meningkatkan pendapatan pesantren dan masyarakat sekitar," tandasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini