PLN Butuh 8 Juta Ton Limbah Sampah Gerakkan PLTU

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 25 November 2020 20:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 25 320 2316194 pln-butuh-8-juta-ton-limbah-sampah-gerakkan-pltu-XVfpYZchru.jpg Biomassa (Shutterstock)

JAKARTA - PT PLN (Persero) mencatat, pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) akan bisa bekerja secara maksimal bila tersedianya serbuk gergaji kayu sebanyak 8 juta ton per tahun. Serbuk gergaji kayu merupakan limbah sampah yang nantinya dikonversikan dengan batu bara guna mengoperasikan PLTU.

Direktur Mega Proyek PT PLN Ikhsan Asaad mengatakan, pemanfaatan limbah sampah tersebut untuk menggantikan sebanyak lima persen batu bara dalam pembangkit. Langkah ini juga seiring dengan upaya perseroan untuk mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) 23 persen pada 2025.

 Baca juga: Tak Bisa Sendirian, BUMN Keroyokan Garap EBT

Manajemen perseroan optimis bila target EBT sebesar 23 persen pada 2025 akan tercapai. Optimis itu seiring dengan sejumlah langkah strategis yang telah disusun oleh manajemen perseroan plat merah tersebut.

Ikhsan mengatakan, untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen di tahun 2025, PLN memiliki dasar strategis dalam melakukan mengembangkan EBT. Karena itu, pihaknya optimis untuk mengejar target tersebut.

 Baca juga: Masih Kalah dengan Minyak, EBT di RI Cuma 13,6%

"Sebagai BUMN yang ditugaskan pemerintah, PLN tentunya juga berkomitmen untuk mencapai target EBT 23 persen pada 2025. Sampai saat ini jumlah pelanggan pln mencapai 77 juta pelanggan dengan kapasitas pembangkit terpasang 63.000 Megawatt," ujar Ikhsan dalam RDP bersama Komisi VII DPR, Rabu (25/11/2020).

Adapun langkah dasar strategis PLN dalam mengembangkan EBT diantaranya, pertama, pembangunan pembangkit EBT perlu mempertimbangkan keselarasan supply dan demand. Di mana, potensi ketersediaan sumber energi setempat (resource based) keekonomian menjamin adanya reliability, sekuriti dan sustainability,

 Baca juga: Begini 6 Aspirasi Pertamina untuk RUU Energi Baru Terbarukan

Kedua, penambahan pembangkit EBT akan diprioritaskan dan diakselerasi pada daerah-daerah yang masih menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) impor sebagai bahan bakar pembangkit diesel. Manajemen perseroan menilai, hal ini diharapkan akan menurunkan biaya pokok produksi listrik sehingga dapat mengurangi subsidi atau kompensasi dari pemerintah.

Ketiga, untuk daerah-daerah yang memiliki riset margin besar diharuskan mempertimbangkan penyelarasan dan harmonisasi antara supply dan demand, serta kapasitas keuangan PLN maupun pemerintah. Sementara pada daerah defisit akan diakselerasi pengembangan EBT.

Dalam kesempatan tersebut, Ikhsan menyebut, hingga November 2020, porsi EBT Indonesia tercatat 13,6 persen dengan kapasitas terpasang kurang lebih 8.000 Megawatt. Di mana, yang mendominasi EBT dalam negeri adalah Pembangkit listrik tenaga air (PLTA), PA, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), kepanjangan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta Biomass.

Sementara itu, dari tahun 2000 hingga 2019 pembangkit fosil Indonesia juga baru tercatat 6,6 persen. Bahkan, di tahun 2020 sampai 2029 akan mengalami penurunan menjadi 3,6 persen.

"Dan ini kalau kita lihat juga bagaimana pengembangan pembangkit EBT dari 2000 hingga 2019 itu tumbuh 7,1 persen. Tetapi rencana kita ke depan, dari 2020 hingga 2029 itu tumbuh 12 persen," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini