Ombudsman: Kemungkinan Ada Modus Korupsi Lebih Canggih dari Bansos

Hafid Fuad, Jurnalis · Selasa 08 Desember 2020 14:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 08 320 2323845 ombudsman-kemungkinan-ada-modus-korupsi-lebih-canggih-dari-bansos-DueR8HqGkv.jpg Korupsi (Shutterstock)

JAKARTA - Ombudsman RI mengingatkan pemerintah untuk memperkuat pengawasan modus korupsi di beberapa kementerian dan lembaga. Diperkirakan ada praktik korupsi dengan modus yang lebih canggih dibandingkan yang terungkap di Kementerian Sosial dan KKP baru-baru ini.

Anggota Ombudsman RI Ahmad Alamsyah Saragih mencontohkan beberapa yang beresiko seperti program bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) ataupun bantuan benih dari Kementerian Pertanian. Sementara di Kementerian Perdagangan ada volume transaksi ekspor impor yang sangat masif.

 Baca juga: Sembako Jabodetabek Dikorupsi Mensos, Ternyata Bansos Awal Covid-19

Berikutnya pada Kementerian Kesehatan yang mengalihkan anggaran ke Kementerian Pertahanan terkait pengadaan alat kesehatan untuk Covid19.

"Kemungkinan ada modus korupsi yang lebih canggih dibandingkan bansos. Pemerintah harus mengawasi progresnya sampai mana dan memberikan peringatan dini. Jangan sampai ada OTT berikutnya," ujar Alamsyah dalam siaran live Market Review di IDX Channel, Jakarta, Selasa (8/12/2020).

 Baca juga; Juliari Batubara Korupsi Bansos, Netizen ke Jokowi: Si Anu Dihukum Mati Gak Bos?

Menurutnya dampak korupsi sangat besar dari sekedar tindakan memalukan diri dan keluarga koruptor. Lebih dari itu juga dampak besarnya adalah merusak kepercayaan masyarakat pada pemerintah.

"Pemerintah harus betul-betul awasi dan berikan peringatan dini. Jangan abaikan begitu saja," ujarnya.

Dirinya juga mengecam efek jera yang sangat lemah bagi para koruptor karena praktiknya terus berulang. Menurutnya itu karena lama masa penahanan koruptor terus menyusut setiap tahunnya. Selain itu juga kebijakan pemiskinan koruptor tidak dilakukan dengan maksimal.

"Efek jera sangat lemah. Secara matematis hasil korupsinya masih lebih besar dibandingkan hukuman. Hasilnya korupsi terus berulang," tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini