Pengusaha Ramal Ekonomi Indonesia Masih Berjuang Lawan Resesi

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 17 Desember 2020 18:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 17 320 2329666 pengusaha-ramal-ekonomi-indonesia-masih-berjuang-lawan-resesi-PUBzkWwf5k.jpg Indonesia Alami Resesi. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2020 masih mengalami pelemahan. Artinya ekonomi Indonesia belum ke luar dari resesi.

Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Hipmi Ajib Hamdani mengatakan, pada kuartal IV-2020 diperkirakan ekonomi Indonesia berada dikisaran 0 hingga minus 1%. Artinya masih mengalami resesi karena pada kuartal III-2020 ekonomi Indonesia minus 3,4%.

Memang menurut Ajib, ada sedikit peningkatan pada konsumsi rumah tangga. Hal ini menyusul pelonggaran yang dilakukan oleh pemerintah pada aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga: 7 Jurus Maut Sembuhkan Ekonomi dari Covid-19

“Pergerakan konsumsi pertumbuhan ekonomi kita naik tapi masih bersifat minus. Kemarin (kuartal III-2019) minus 3,4%. Terjadi perlambatan ekonomi yang luar biasa. Prediksi Hipmi kuartal IV di angka 0 sampai minus 1%, artinya kita menghadapi masalah resesi,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (17/12/2020).Oleh karena itu, lanjut Ajib, untuk mendongkrak ekonomi perlu peningkatan konsusmi. Mengingat, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang paling besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan presentase 57%.

“Diperlukan penopang konsumsi, untuk itu pemerintah perlum income yang berasal dari konsumsi masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga: Sedih, Bank Dunia Ramal Ekonomi RI 2021 Hanya Tumbuh 3,1%

Selain itu, lanjut Ajib, sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) juga perlu untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah. Apalagi sektor UMKM menjadi salah satu yang paling terdampak dan bisa menjadi penyelamat ekonomi nasional.

“Dan paling efektif adalah sektor UMKM karena supplat bisnis jalan dan income masyarakat naik untuk itu pemerintah harus mendesain ulang yang cepat dan tepat karena itu bisa memberikan daya ungkit maksimal agar konsumsi baik dan lebih cepat pemulihan tahun depan,” jelasnya.

Salah satu contohnya dengan memberikan pendampingan kepada para pelaku UMKM. Tak hanya pendampingan, bantuan permodalan juga karena selama ini, para pelaku usaha mikro ini masih kesulitan mendapatkan akses pinjaman modal dari perbankan.

Atas dasar itu pula, pihaknya terus gencar melakukan pendampingan kepada para pelaku UMKM. Para pelaku UMKM ini tak hanya dibimbing untuk bisa mendapatkan produk yang berkulitas tapi dijamin untuk mendapatkan akses pinjaman ke perbankan.

Sebagai informasi, Hipmi menandatangan nota kesepemahaman dengan INKOPPOL. Nantinya, program pendampingan dan pembiayaan ini akan dilakukan dimulai di kawasan DKI Jakarta terlebih dahulu.

“Nantinya, akan ada beberapa klaster yang mendapatkan pendampingan ini. Misalnya usaha baru dan mengembangkan usaha dan Inkoppol dan HIPMI mendukung. Kita daei 50-100 orang dan tahun depan target 1.000-2.000 berjalan dan kita mulai sedikit 1.00 binaan,” jelasnya.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan, Vokasi dan Kesehatan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Sari W. Pramono mengatakan, para pelaku UMKM khususnya yang kehilangan pekerjaan perlu mendapatkan dukungan berupa pendampingan dan akses pembiyaan. Sehingga masyarakat yang terkena PHK ini tidak terus menerus menerima bantuan dari pemerintah.

“Dalam masa pandemi ini banyak orang-orang yang kehilangan pekerjaan. Sehingga kita merasakan bahwa HIPMI masyarakat bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus terus menerus menerima bantuan dari pemerintah. Inilah tujuan MoU kita pada hari ini,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini