Sriwijaya Air SJ-182 Sempat 2 Kali Rusak dan Masuk Bengkel Sebelum Jatuh

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 10 Februari 2021 17:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 10 320 2359976 sriwijaya-air-sj-182-sempat-2-kali-rusak-dan-masuk-bengkel-sebelum-jatuh-McymN1wcUr.jpg Serpihan Pesawat Sriwijaya Air (Foto: Okezone)

JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan hasil investigasi awal dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Hasil investigasi tersebut didapatkan dari identifikasi kotak hitam atau black box berisi Flight Data Recorder (FDR) dan juga pemeriksaan buku catatan perawatan pesawat.

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan dari hasil investigasi dan analisa buku catatan perawatan pesawat, sempat ditemukan masalah pada tuas pengatur tenaga mesin atau autothrottle. Pada tanggal 3 Januari 2021, pilot sempat melaporkan autothrottle tidak berfungsi dan dilakukan perbaikan dengan hasil yang baik.

Baca Juga: Ternyata Tuas Pengatur Mesin Sriwijaya Air SJ-182 Sempat Bermasalah

Kemudian pada 4 Januari 2021, autothrottle dilaporkan kembali tidak berfungsi. Perbaikan sempat dilakukan dan belum berhasil sehingga pesawat kembali dimasukan ke dalam daftar penundaan perbaikan atau Deferred Maintenance Item (DMI). Setelah itu, tanggal 5 Januari 2021, dilakukan perbaikan dengan hasil baik dan DMI ditutup.

"Tidak ditemukan catatan adanya DMI di buku catatan perawatan sampai dengan 9 Januari 2021," ujarnya dalam acara konferensi pers virtual, Rabu (10/2/2021).

Sebenarnya, dari hasil investigasi terkait dengan perawatan pesawat udara, sempat ditemukan juga 2 kerusakan yang ditunda perbaikannya sejak 25 Desember 2020. Penundaan perbaikan adalah hal yang sesuai dengan ketentuan pemberangkatan (dispatch) di penerbangan.

Namun, perbaikan yang ditunda wajib memenuhi Minimum Equipment List (MEL). Kemudian pada tanggal 25 Desember, ditemukan petunjuk kecepatan (Mach/Airspeed Indicator) di sisi sebelah kanan rusak. Perbaikan yang dilakukan belum berhasil dan dimasukan ke dalam daftar penundaan perbaikan kategori C. Sesuai dengan MEL, untuk kategori C penundaan perbaikan boleh sampai dengan 10 hari.

Kemudian pada 4 Januari, indikator tersebut diganti dan hasilnya bagus, sehingga DMI pun ditutup.

"Ada 2 kerusakan yang ditunda kerusakannya sejak 25 Desember. Itu hal biasa kesesuaian dengan ketentuan keberangkatan dengan mematuhi panduan MEL. MEL dibuat oleh pabrikan pesawat," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini