Indeks Dolar AS Lesu di Akhir Pekan

Sabtu 20 Februari 2021 08:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 20 320 2365260 indeks-dolar-as-lesu-di-akhir-pekan-H2cOJQFdbu.jpg Dolar AS (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Dolar AS kembali melemah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), ketika para pelaku pasar lebih menyukai mata uang-mata uang yang terkait dengan sentimen risiko daripada mata uang aman greenback.

Selera terhadap mata uang berisiko dipicu oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi bahwa paket bantuan virus corona yang diusulkan Presiden AS Joe Biden senilai 1,9 triliun dolar AS akan membuahkan hasil.

Baca juga: Dolar Menguat karena Ekonomi AS Semakin Cerah

“Dolar turun terhadap mata uang lainnya tetapi tidak banyak,” kata, Presiden Bronson Meadows Capital Management Oliver Pursche dilansir dari Antara, Sabtu (20/2/2021).

"Saya memperkirakan dolar berada di posisi sekarang di akhir tahun, dan alasan utamanya untuk itu adalah sementara saya melihat beberapa tanda perbaikan dalam ekonomi, kebijakan moneter akan tetap di tempatnya. Saya tidak berpikir dolar itu underpriced atau overpriced," tambah Pursche.

Baca juga: Dolar Rebound Didongkrak Imbal Hasil Obligasi, Bitcoin Tembus USD50.000

Untuk minggu ini, dolar turun sekitar 0,2% terhadap sekeranjang mata uang dunia, euro relatif datar, dan yen kehilangan lebih dari 0,5%. Namun pound Inggris menguat lebih dari 1,1% terhadap dolar, minggu terbaiknya sejak pertengahan Desember.

Dolar Australia, yang terkait erat dengan harga-harga komoditas dan prospek pertumbuhan global, terakhir naik 1,21% pada 0,7863 dolar AS, menyentuh level tertinggi sejak Maret 2018.

Dolar Selandia Baru juga menguat, mendekati level tertinggi lebih dari dua tahun, dan dolar Kanada juga menguat.

Sterling, yang sering mendapat keuntungan dari peningkatan selera risiko, naik ke level tertinggi hampir tiga tahun di tengah program vaksinasi agresif di Inggris. Terakhir naik 0,27% menjadi 1,40 dolar AS.

Euro menunjukkan sedikit reaksi terhadap perlambatan aktivitas pabrik yang ditunjukkan oleh data indeks manajer pembelian, naik 0,21% menjadi 1,2116 dolar AS.

Yen, menguat terhadap dolar dan terakhir di 105,495, merangkak di atas rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam tiga hari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini