Upaya Menko Luhut Kurangi 70% Sampah Plastik ke Laut

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 26 Februari 2021 12:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 26 320 2368757 menko-luhut-sebut-70-sampah-plastik-bocor-ke-laut-bcZHJH8oki.jpg Menko Luhut (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan meresmikan dua fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Reduce-Reuse-Recycle (TPST3R) di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Kedua TPST3R ini dibangun sebagai kerjasama antara pemerintah daerah Pasuruan dan Project STOP, di mana Nestle, mitra strategis Project STOP, menjadi mitra utama dan penyandang dana utama kemitraan kota Project STOP di Pasuruan.

Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pihak swasta dan pemerintah harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah pengelolaan sampah.

Baca Juga: Lumbung Ikan Nasional, Trenggono: Harus Dipikirkan Tarik Investor

"Jadi pembagunan ini sejalan dengan ambisi pemerintah Indonesia untuk mengurangi 70% kebocoran sampah plastik ke laut pada 2025," ujar dia dalam webinar secara virtual, Jumat (26/2/2021).

Dia juga mengapresiasi upaya dan inisiatif Project STOP, Nestle, dan mitra lainnya untuk mendukung ekonomi sirkular dan menghentikan sampah plastik berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau lautan.

“Kami menghargai kemitraan ini, yang sejalan dengan komitmen Nestlé untuk memastikan 100% kemasan kami dapat didaur ulang atau digunakan kembali pada 2025, dengan fokus khusus pada pencegahan sampah plastik dan ambisi kami untuk menghentikan kebocoran plastik ke TPA, lautan, dan sungai," ungkpa dia.

Baca Juga: RI Ajak Prancis Bikin Pelabuhan Perikanan Ramah Lingkungan

Sementara itu, Direktur Program Project STOP Mike Webster menambahkan TPST3R ini akan mengelola pengumpulan dan pemilahan sampah serta proses daur ulang sampah di kecamatan Lekok dan Nguling, dengan kapasitas sampai 32 ton per hari.

Kedua fasilitas ini akan mengumpulkan semua sampah termasuk 1.500 ton sampah plastik pada saat beroperasi penuh pada 2022. Di Pasuruan, bekerja sama dengan masyarakat setempat, Project STOP sejauh ini berhasil membangun sistem pengelolaan dan pengumpulan sampah, termasuk program edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah dari rumah dan pembentukan badan usaha desa yang melayani lebih dari 42.000 warga.

"Project STOP berfokus pada pengelolaan sampah dan peningkatan manfaat sosial seperti kesehatan, perikanan, lapangan kerja, dan pariwisata. Kali ini, kami telah membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, lebih sirkular, dapat dikembangkan, dan dengan biaya lebih ekonomis di kecamatan Lekok dan Nguling, yang terletak di garis pantai dan memiliki tingkat pengumpulan sampah di bawah 1%," tutur dia.

Sedangkan, Presiden Direktur Nestle Indonesia Ganesan Ampalavanar menyebut sebagai perusahaan makanan dan minuman pertama yang bermitra dengan Project STOP, Nestle terus mendukung berbagai upaya untuk menghentikan kebocoran sampah plastik ke lingkungan di wilayah operasinya.

"Sehingga manfaat positif sosial dan ekonomi dapat terus dipertahankan," tandas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini