Sri Mulyani Pamer Defisit APBN RI Masih Kecil meski Tekor Rp956 Triliun

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 03 Maret 2021 16:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 03 320 2371687 sri-mulyani-pamer-defisit-apbn-ri-masih-kecil-meski-tekor-rp956-triliun-TloflsGcXJ.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com/Kemenpan RB)

JAKARTA - Pandemi virus corona (covid-19) mempengaruhi perekonomian hampir semua negara di dunia termasuk Indonesia. Melemahnya ekonomi ini berdampak pada melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Adapun defisit APBN 2020 mencapai sebesar Rp956,3 triliun. Jumlah tersebut setara 6,09% dari produk domestik bruto (PDB).

Baca Juga: APBN 2021 Sudah Tekor Rp45,7 Triliun, Pendapatan Negara Terkontraksi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, defisit ini jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lainnya. Sebut saja India yang defisit APBN-nya mencapai 13% dan Filipina yang defisitnya mencapai 8,1%.

“Kalau kita lihat dibandingkan negara-negara kita yaitu dari ASEAN maupun negara G20, jumlah APBN kita relatif lebih kecil meskipun itu sudah meningkat di 6%. Kita bandingkan seperti India yang defisitnya sampai 13%, FIlipina 8,1% dan Malaysia di 6,5%,” ujarnya ujarnya dalam acara Webinar Balitbang Kementerian Perhubungan, Rabu (3/3/2021).

Baca Juga: Sri Mulyani Pastikan Anggaran PEN 2021 Bengkak Lagi Jadi Rp688,3 Triliun

Melebarnya defisit APBN tidak terlepas dari melemahnya ekonomi global termasuk Indonesia. Pasalnya krisis ekonomi akibat pandemi ini mempengaruhi aspek kehidupan masyarakay di seluruh dunia.

“Kita memahami seluruh dunia sangat dipengaruhi oleh covid-19. Sudah satu tahun dunia menghadapi pandemi tersebut. Dan dampaknya begitu besar kepada sosial, ekonomi maupun kehidupan masyarakat,” kata Sri Mulyani.

Pemerintah pun sangat fokus untuk menangani pandemi Covid-19. Berbagai kebijakan dilakukan secara cepat, fleksibel namun tetap transparan.

Salah satu instrumen fiskal yang melakukan fungsi kekuatan untuk mencounter siklus turun akibat pandemi adalah APBN. Oleh sebab itu, pada 2020 lalu APBN harus mengalami defisit hingga mendekati angka 6,2%.

“Salah satu instrumen yang paling penting adalah APBN sebagai instrumen fiskal yang melakukan fungsi kekuatan untuk mengcounter siklus turun akibat shock covid-19. APBN harus dihadapkan defisit APBN yang semakin tinggi yaitu menjadi 6,1% dari PDB,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini