Hilirisasi Batu Bara, PTBA Siapkan Belanja Modal Rp3,8 Triliun

Senin 15 Maret 2021 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 15 278 2377912 hilirisasi-batu-bara-ptba-siapkan-belanja-modal-rp3-8-triliun-plXyhAVPB9.jpg PTBA Tambah Capex untuk 2021. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) 2021 sebesar Rp3,8 triliun. Dana tersebut akan diamanatkan untuk menopang proyek hiliriasi dan diversifikasi bisnis perseroan.

Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengatakan, alokasi belanja modal tahun ini meningkat sekitar 192% dibanding tahun lalu sebesar Rp1,3 triliun.

”Tahun ini, kami mengembangkan hilirisasi batu bara, salah satunya dengan pengembangan DME sebagai proyek gasifikasi batu bara,”ujarnya di Jakarta, dikutip dari Harian Neraca, Senin (15/3/2021).

Baca Juga: Ada Vaksinasi, PTBA Pede Kejar Produksi 29,5 Juta Ton Batu Bara di 2021

Pada Februari 2021, PTBA pun telah melakukan perjanjian kerja sama dengan Pertamina dan Air Products Chemical Inck terkait pengembangan gasifikasi batu bara yang menghasilkan dimethyl ether atau DME.

"Tinggal menghitung waktu agar pabrik bisa berjalan dan menghasilkan produk DME yang bisa menjadi produk substitusi elpiji, yang impornya kian bertambah setiap tahun," kata Arviyan.

Baca Juga: Permintaan Turun, PTBA Sesuaikan Produksi Batu Bara hingga Akhir 2020

Selain gasifikasi, PTBA juga akan fokus mengembangkan karbon aktif dari bahan baku batu bara, sebagai salah satu bentuk hilirisasi perseroan. Rencana itu pun sudah mulai dijalankan dengan telah ditandatanganinya head of agreement (HoA) dengan Activated Carbon Technologies PTY, LTD (ACT) yang berbasis di Australia. PTBA juga berencana mengembangkan pabrik karbon aktif di Kawasan Industri Tanjung Enim (BACBIE) untuk memproduksi karbon aktif sebanyak 12.000 ton per tahun dengan mengolah sebanyak 60.000 ton batu bara per tahun.

Kemudian, PTBA melalui PT Huadian Bukit Asam Power juga tengah mengebut pembangungan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Sumsel-8, yang akan memiliki kapasitas 2x620 MW.

”Pembangkit listrik ini diharapkan bisa beroperasi penuh secara komersial pada bulan Maret tahun 2022," ujar Arviyan.

Tahun ini, perseroan menargetkan produksi dan penjualan batu bara masing-masing sebanyak 29,5 juta ton dan 30,7 juta ton. Adapun strategi efisiensi masih menjadi fokus perseroan pada 2021, mengingat strategi ini mampu membantu posisi bottom line.

Bukit Asam tercatat membukukan laba bersih Rp2,38 triliun pada 2020, turun 41,2% dibanding 2019 sebesar Rp 4,05 triliun. Sementara pendapatan perseroan turut terpangkas 20,28% menjadi Rp17,3 triliun pada 2020, dari Rp21,7 triliun pada 2019.

Menurut Arfiyan, tanpa efisiensi sulit bagi perseroan mencapai laba pada 2020. Pasalnya, perseroan mengalami tekanan penjualan, yang ditambah lagi dengan faktor pelemahan harga batu bara selama 2020.

Menurut Arviyan, pihaknya mencatat penghematan operasional sebesar Rp825 miliar pada tahun lalu. Dari sisi kinerja operasional, Bukit Asam mencatatkan penjualan sebesar 26,1 juta ton batubara pada tahun lalu. Realisasi tersebut sebenarnya menurun dari 2019 yang sebesar 27,79 juta ton.

Namun, realisasi penjualan ini 5% lebih tinggi dari target yang dipasang pada 2020, yakni sebesar 24,86 juta ton. Lebih lanjut, perseroan berhasil memproduksi 24,84 juta ton batubara sepanjang 2020, menurun 14,5% dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 29,07 juta ton.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini