JAKARTA - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) 2021 sebesar Rp3,8 triliun. Dana tersebut akan diamanatkan untuk menopang proyek hiliriasi dan diversifikasi bisnis perseroan.
Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengatakan, alokasi belanja modal tahun ini meningkat sekitar 192% dibanding tahun lalu sebesar Rp1,3 triliun.
”Tahun ini, kami mengembangkan hilirisasi batu bara, salah satunya dengan pengembangan DME sebagai proyek gasifikasi batu bara,”ujarnya di Jakarta, dikutip dari Harian Neraca, Senin (15/3/2021).
Baca Juga: Ada Vaksinasi, PTBA Pede Kejar Produksi 29,5 Juta Ton Batu Bara di 2021
Pada Februari 2021, PTBA pun telah melakukan perjanjian kerja sama dengan Pertamina dan Air Products Chemical Inck terkait pengembangan gasifikasi batu bara yang menghasilkan dimethyl ether atau DME.
"Tinggal menghitung waktu agar pabrik bisa berjalan dan menghasilkan produk DME yang bisa menjadi produk substitusi elpiji, yang impornya kian bertambah setiap tahun," kata Arviyan.
Baca Juga: Permintaan Turun, PTBA Sesuaikan Produksi Batu Bara hingga Akhir 2020
Selain gasifikasi, PTBA juga akan fokus mengembangkan karbon aktif dari bahan baku batu bara, sebagai salah satu bentuk hilirisasi perseroan. Rencana itu pun sudah mulai dijalankan dengan telah ditandatanganinya head of agreement (HoA) dengan Activated Carbon Technologies PTY, LTD (ACT) yang berbasis di Australia. PTBA juga berencana mengembangkan pabrik karbon aktif di Kawasan Industri Tanjung Enim (BACBIE) untuk memproduksi karbon aktif sebanyak 12.000 ton per tahun dengan mengolah sebanyak 60.000 ton batu bara per tahun.
Kemudian, PTBA melalui PT Huadian Bukit Asam Power juga tengah mengebut pembangungan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Sumsel-8, yang akan memiliki kapasitas 2x620 MW.
”Pembangkit listrik ini diharapkan bisa beroperasi penuh secara komersial pada bulan Maret tahun 2022," ujar Arviyan.