Cara RI Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Impor Tekstil

Sabtu 20 Maret 2021 08:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 20 320 2381017 cara-ri-kurangi-ketergantungan-bahan-baku-impor-tekstil-Kim06ybqaF.jpg Buruh Tekstil (Foto: Reuters)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu peningkatan daya saing industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional, salah satuya dengan berupaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku tekstil impor.

Langkah yang dilakukan antara lain dengan mendorong pengembangan bahan baku tekstil yang berbasis serat sintetis.

“Bahan baku tekstil berbasis serat sintetis punya banyak keunggulan, antara lain memiliki durabilitas tinggi serta dapat direkayasa dengan menanamkan sifat dan fungsi khusus yang menunjang performa produk tekstil. Sifat ini dapat dikatakan abadi karena ditanamkan langsung pada bahan baku serat sintetis tersebut,” ujar Plt Kepala Balai Besar Tekstil (BBT) Kemenperin Wibowo Dwi Hartoto dilansir dari Antara, Sabtu (20/3/2021).

Baca Juga: Tak Mau Lama-Lama, Pengusaha Tekstil Ingin Vaksinasi Mandiri

Ia menuturkan sebagai upaya mendampingi para pelaku industri TPT dalam mengembangkan material tekstil berbasis serat sintetis, BBT Kemenperin menyediakan fasilitas berupa testbed ekonomis.

“Fasilitas testbed pengembangan tekstil fungsional dilengkapi melt spinning skala laboratorium dengan teknologi terbaru. Fasilitas tersebut memiliki kemampuan untuk mengolah berbagai jenis polimer menjadi benang filamen,” jelasnya.

Fasilitas test-bed tersebut memungkinkan industri melakukan pengembangan produk secara ekonomis, karena hanya membutuhkan sedikit bahan baku, mulai dari 0,5kg hingga 2 kg untuk bereksperimen yang akan menghasilkan formula berbagai varian benang filamen, baik untuk kebutuhan sandang atau functional apparel maupun technical textile.

Baca Juga: Industri Tekstil Sangat Vital, Potensinya USD30 Miliar

Selain itu pengembangan produk functional apparel didukung melalui kemampuan color matching dan penyematan fungsi khusus pada serat seperti anti bakteri, anti api, atau pembuatan benang yang menunjang faktor kenyamanan seperti pengatur suhu (thermo-regulator), quick dry, anti kusut, dan sebagainya.

“Sedangkan untuk technical textile, potensi produk tekstil sebagai bahan baku material bagi sektor-sektor lain seperti bidang penerbangan, kesehatan (biomedis), otomotif, pertanian, konstruksi, dan sebagainya,” lanjutnya.

Kepala BBT Kemenperin optimis, fasilitas testbed untuk pengembangan tekstil fungsional, akan turut mendorong upaya kemandirian bahan baku tekstil nasional, karena sudah didukung oleh ekosistem industri TPT di sektor hulu.

Menurutnya, di Tanah Air sudah ada industri polimerisasi chip sebagai bahan baku benang filamen hingga industri pemintalan serat filamen dengan teknologi melt spinning.

Data Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) mencatat, ada delapan perusahaan polimerisasi chip poliester, 12 perusahaan produsen benang filamen jenis poliester, empat perusahaan produsen benang filamen jenis nilon, dan empat perusahaan produsen benang viscose.

“Salah satu kendala yang dialami sektor ini adalah belum optimalnya kegiatan pengembangan produk karena faktor sumber daya manusia dan fasilitas laboratorium research and development yang belum memadai,” paparnya.

Wibowo menambahkan, dalam pengembangan fasilitas testbed untuk tekstil fungsional, BBT Kemenperin turut menggandeng berbagai pihak antara lain, asosiasi, akademisi, pelaku industri, perusahaan teknologi, pemerintah dan startup.

“Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan keunggulan dan daya saing yang dicapai melalui akses kepada sumber daya, seperti pasar, teknologi, kapital dan sumber daya manusia,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini