Erick Thohir Sebut Ekonomi Anjlok jika BUMN Punah, Benar Nih?

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 08 April 2021 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 320 2391274 erick-thohir-sebut-ekonomi-anjlok-jika-bumn-punah-benar-nih-CNOGEvuFFR.jpeg Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Okezone.com/Kementerian BUMN)

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku, khawatir terhadap posisi perseroan negara saat ini. Kekhawatiran itu perihal tuntutan digitalisasi dalam dunia bisnis saat ini.

Digitalisasi menuntut adanya perubahan paradigma dan penyesuaian para pelaku bisnis. Erick melihat, perubahan itu terjadi secara cepat dan harus diantisipasi.

Baca Juga: Erick Thohir Sebut BUMN Punah Sangat Membahayakan Ekonomi RI 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, tidak semua BUMN memberikan keuntungan kepada negara. Menurutnya ada sejumlah perseroan negara yang justru merugikan negara.

Pernyataan itu didasari pada proses transformasi BUMN melalui skema restrukturisasi perusahaan yang menjadi program andalan Menteri BUMN, Erick Thohir. Dimana, dari 142 perseroan dipangkas menjadi 70 perseroan saja. Bahkan, Bhima menilai, ada miss management, sebab tercatat banyak perseroan yang cenderung merugi, tapi diselamatkan dengan Penyertaan Modal Negara (PMN).

Baca Juga: BUMN Karya Rugi Karena Penugasan Tak Sesuai

"Ya cukup banyak ya, kondisi rugi tapi disuntik PMN terus. Ada miss management tapi tetap dipertahankan," ujar dia saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (8/4/2021).

Bhima juga cenderung tidak sepakat dengan pernyataan Erick Thohir bahwa punahnya BUMN membahayakan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Sebelumnya, Mantan Bos Inter Milan itu mengaku khawatir dengan kondisi BUMN bila tidak mampu menyesuaikan diri di era digital, maka kondisi itu bisa membuat BUMN punah. jika itu terjadi, maka ekonomi Indonesia dalam keadaan bahaya.

Dalam kajiannya, hanya ada beberapa sektor perseroan pelat merah yang punya kontribusi besar terhadap ekonomi Indonesia. Misalnya, BUMN sektor energi seperti PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

"BUMN yang mana dulu? Kalau BUMN yang mengelola sektor strategis seperti Pertamina dan PLN memang harus dijaga kesehatan keuangannya. Tapi anak cucu BUMN yang tidak efisien, jumlahnya ratusan hanya jadi rebutan kursi direksi dan komisaris ya harus dipikir ulang untuk dipertahankan," tuturnya.

Karena itu, Bhima mendukung upaya efisiensi yang dilakukan Erick melalui skema kalsterisasi BUMN. Saat ini, proses menyusun klasterisasi berdasarkan value chain dan bisnis inti (core business) sudah berjalan. Totalnya ada 12 klaster dari sebelumnya 27 klaster. Masing-masing Wakil Menteri BUMN membawahi enam klaster.

"Justru saya mendukung langkah pak Erick untuk rombak anak cucu BUMN agar lebih profesional dan memberikan ruang kolaborasi dengan swasta. Jadi kalau BUMN yang masuknya ke perhotelan misalnya, sementara sektor itu harusnya diisi swasta maka kalau dipunahkan nggak ada masalah," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini