Saham PGN Anjlok Imbas Penetapan Harga Gas Industri

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 12 April 2021 12:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 12 278 2393177 saham-pgn-anjlok-imbas-penetapan-harga-gas-industri-9NNKo9VwrA.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) membukukan kerugian bersih sebesar USD264,77 juta dolar AS sepanjang 2020. Nilai ini jauh lebih rendah dibanding laba bersih PGN pada 2019 yang mencatat sebesar USD67,58 juta.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai kerugian tersebut tidak bisa dielakkan. Bahkan, kerugian sepanjang 2020 itu menyebabkan harga saham PGN terkoreksi hingga 39,44% pada tahun lalu.

Baca Juga: Strategi PGN Suplai Gas Bumi untuk Proyek Strategis

"Rontok hingga pada kisaran Rp1.300 per saham pada awal April 2021," ujar Fahmy kepada MNC Portal Indonesia, Senin (12/4/2021).

Dia menilai, kerugian disebabkan penurunan pendapatan niaga gas bumi pada segmen industri dan komersial sebesar 2,28 miliar dolar AS atau turun 23% secara tahunan (yoy) dibanding pendapatan 2019.

Selain terjadi penurunan penyerapan gas dari segmen industri dan komersial, penurunan pendapatan itu juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah menetapkan harga gas industri sebesar 6 dolar per MMbtu yang berlaku sejak 1 April 2020. Dimana, tujuan kebijakan pemerintah itu untuk mendorong sektor industri agar dapat bersaing di pasar dalam dan luar negeri.

Baca Juga: PGN Targetkan Bangun 500.000 Jargas, dari Mana Dananya?

"Namun, kebijakan itu sesungguhnya lebih besar mudharat (biaya) daripada manfaat (benefit). Biaya itu harus ditanggung pemerintah, sektor hulu dan midterm," tutur dia.

Biaya yang ditanggung pemerintah adalah melepas pendapatan pemerintah dari sektor hulu sebesar 2,2 dolar per MMBtu, yang akan menurunkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). dalam jumlah yang besar. Penurunan PNBP juga akan menurunkan pendapatan Pemerintah Daerah dari pendapatan bagi hasil, yang besarannya diperhitungkan berdasarkan PNBP.

Biaya yang akan ditanggung oleh oleh sektor Hulu adalah pemangkasan harga jual, yang menjadi potential lost hingga mengurangi margin yang sudah ditargetkan pada saat penyusunan POD saat awal investasi di Hulu Migas.

Sedangkan biaya yang ditanggung oleh sektor midterm adalah penurunan biaya transmisi dan biaya distribusi serta biaya pemeliharaan, yang berpotensi menjadikan PGN tidak hanya merugi dan merontokkan harga saham, tetapi juga menghambat dalam pembangunan pipa yang masih dibutuhkan untuk menyalurkan gas bumi dari hulu ke hilir

Ihwal benefit penetapan harga 6 dolar per MMbtu tidak menaikkan daya saing industri. Alasannya, beberapa variabel biaya lainnya, termasuk pajak, masih membebani industri, selain efisiensi dan produktivitas industri masih tergolong rendah.

"Apalagi penyerapan gas sektor industri menurun drastis, akibat pandemi Covid-19, menyebabkan kerugian PT PGN semakin membengkak," katanya.

Berhubung lebih besar biaya ditanggung oleh pemerintah, sektor hulu dan PGN ketimbang manfaat dalam penciptaan keunggulan bersaing industri yang tidak kunjung terwujud. Pemerintah, kata dia, seharusnya meninjau ulang kebijakan penetapan harga gas 6 dolar per MMbtu.

"Kalau kebijakan itu tetap diberlakukan, penetapan harga gas sebesar 6 dolat per MMbtu seharusnya hanya diperuntukkan untuk tujuh industri strategis saja, seperti diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi," ujar Fahmy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini