Indeks Dolar Flat Merespons Data Ekonomi AS

Jum'at 16 April 2021 08:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 16 320 2395586 indeks-dolar-flat-merespons-data-ekonomi-as-TYT4TIz5YI.jpg Dolar AS (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Indeks dolar sedikit berubah pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Dolar nyaris flat karena investor menyeimbangkan data ekonomi bullish yang menunjukkan penjualan ritel AS naik paling tinggi dalam 10 bulan pada Maret terhadap penurunan lanjutan dalam imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Penjualan ritel meningkat 9,8% pada bulan lalu, Departemen Perdagangan mengatakan Kamis (15/4/2021), mengalahkan ekspektasi para ekonom untuk kenaikan 5,9%.

Baca Juga: Bunga Obligasi AS Turun, Indeks Dolar Merosot

Sebuah laporan terpisah juga menunjukkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran jatuh minggu lalu ke level terendah sejak Maret 2020, ketika penutupan wajib bisnis yang tidak penting diberlakukan untuk memperlambat penyebaran gelombang pertama COVID-19.

"Ini adalah satu-dua pukulan dari data yang sangat positif," kata Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya, dilansir dari Antara, Jumat (16/4/2021).

Baca Juga: Dolar Melemah Menanti Data Inflasi AS

Namun, penguatan dolar dibatasi karena imbal hasil obligasi pemerintah turun ke posisi terendah satu bulan, mengurangi daya tarik relatif mata uang AS.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang saingannya, pada Kamis (15/4/2021) pagi mencapai level terendah satu bulan di 91,487, sebelum rebound menjadi 91,608, tidak berubah pada hari itu.

Euro turun tipis 0,04% menjadi USD1,1975 . Mata uang tunggal mencapai tertinggi enam minggu di USD1,1994 pada Kamis (15/4/2021) pagi. Greenback turun 0,23% menjadi 108,65 yen Jepang dan dolar Australia, proksi untuk sentimen risiko global, menguat 0,42% menjadi 0,7755 dolar AS

Dolar telah melemah bulan ini karena imbal hasil obligasi pemerintah stabil di bawah level tertinggi satu tahun yang dicapai bulan lalu. Imbal hasil turun ketika Federal Reserve AS menegaskan kembali komitmennya untuk menahan suku bunga mendekati nol di tahun-tahun mendatang, dan karena beberapa kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi baru-baru ini akan bersifat sementara.

Presiden Fed San Francisco, Mary Daly pada Kamis (15/4/2021) mengatakan ekonomi AS masih jauh dari membuat "kemajuan substansial" menuju tujuan bank sentral untuk inflasi 2,0% dan lapangan kerja penuh, batasan yang telah ditetapkan Fed untuk mulai mempertimbangkan mengurangi dukungannya terhadap perekonomian.

Selera risiko yang kuat ketika bursa saham mencapai rekor tertinggi juga dipandang mengurangi daya tarik greenback. Meningkatnya ketegangan geopolitik mungkin membantu permintaan obligasi safe-haven AS pada Kamis (15/4/2021).

"Kami melihat lebih banyak risiko di pasar negara-netgara berkembang saat ini, dan itu mungkin membuat beberapa permintaan obligasi pemerintah terus berjalan," kata Moya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini