Antisipasi Inflasi Harga Daging, Impor Daging Beku Jadi Pilihan

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 22 April 2021 21:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 22 320 2399269 antisipasi-inflasi-harga-daging-impor-daging-beku-jadi-pilihan-83E3BHn2yP.jpg Daging beku (Foto: Okezone)

JAKARTA - Daging beku belum menjadi pilihan utama untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Padahal, daging beku memiliki banyak keunggulan dibandingkan daging segar. Selain kualitas yang terjamin, daging beku yang beredar di Tanah Air pun dipastikan telah bersertifikasi halal.

Deputi Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta Suharman Tabrani menjelaskan, kebutuhan daging sapi Indonesia dipasok oleh sapi lokal sebanyak 59%, sisanya diimpor dalam bentuk daging, sapi hidup, dan daging kerbau.

Baca Juga: Daging Ayam vs Daging Sapi, Mana Lebih Sehat?

Selain masalah impor, budaya masyarakat Indonesia yang lebih memilih daging sapi segar turut berkontribusi pada pergerakan harga daging sapi. Dia menyampaikan, data pada 2018 menunjukkan total konsumsi daging sapi dan kerbau mencapai 678.903 ton. Perinciannya, daging sapi impor sebanyak 14%, daging kerbau impor 12%, daging lokal dari sapi impor 15%, dan daging lokal dari sapi lokal sebanyak 69%.

Terkait pergerakan harga, Suharman menyampaikan bahwa daging sapi tercatat deflasi sebesar -0.46% (yoy) pada Maret 2021, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu (3,39%, yoy). Secara tahun berjalan, komoditas ini tercatat deflasi sebesar -0.54% (ytd), setelah mengalami inflasi pada beberapa bulan sebelumnya. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada beberapa tahun sebelumnya. Koreksi harga tersebut didorong oleh mulai masuknya pasokan daging sapi impor dan daging kerbau impor di pasar domestik.

Baca Juga: Erick Thohir Akan Beli Peternakan Sapi di Belgia, Begini Respons DPR

“Ke depan, perlu diperhatikan potensi kenaikan harga daging sapi domestik akibat dampak tren peningkatan harga sapi dunia dan peningkatan permintaan masyarakat di bulan Ramadhan dan HKBN Idul Fitri,” kata dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/4/2021).

Untuk mengendalikan pergerakan harga daging sapi, ia menjelaskan bahwa TPID DKI Jakarta memiliki program bernama program 4K, salah satunya degan penyediaan alternatif pilihan daging selain daging segar dengan menyediakan daging ayam beku, daging sapi beku, dan daging kerbau beku sebagi alternatif substitusi daging sapi. Program 4K merupakan singkatan dari Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Dalam kesempatan ini, Suharman menyampaikan tiga rekomendasi yang perlu diperhatikan para pemangku kepentingan terkait. Pertama, peningkatan komunikasi kepada masyarakat untuk mengonsumsi daging beku yang berkualitas. Kedua, pemantauan risiko keamanan dan kualitas daging beku. Sedangkan rekomendasi ketiga adalah pembenahan jalur tata niaga aneka daging dan sistem produksi.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria saat memberikan keynote speech menyampaikan, Pemprov DKI memiliki memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam menyiapkan dan menjaga kualitas daging agar layak dikonsumsi oleh masyarakat. Salah satunya dengan meningkatkan penyediaan stok daging sapi beku.

Pria yang akrab disapa Ariza itu menyadari, masyarakat Indonesia, tak terkecuali warga DKI Jakarta, masih bergantung pada daging segar. Oleh karena itu, ia menilai perlu adanya langkah untuk meningkatan animo masyarakat dalam mengonsumsi daging beku.

"Sosialisasi tentang nilai manfaaat daging beku harus terus dilakukan. Masyarakat juga harus terus diberikan pemahaman tentang arti penting program ketahanan pangan," ujar Ariza.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini