Cara Pulihkan Keuangan Usai Lebaran

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Kamis 13 Mei 2021 22:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 12 622 2409388 cara-pulihkan-keuangan-usai-lebaran-vBRoBTJPAj.jpg Tips Mengatur Keuangan Usai Lebaran. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Alokasi pengeluaran biasanya lebih banyak ke luar selama Ramadhan dan Lebaran. Banyak orang yang mempersiapkan diri menyambut Hari Raya dengan membeli baju Lebaran, kue kering hingga bingkisan hampers.

Itu sebabnya banyak orang yang lebih boros secara konsumtif, sehingga arus kas keuangannya menjadi berantakan.

Walaupun ada tambahan penghasilan dari THR atau bonus tahunan, tidak menutup kemungkinan akan ludes dalam rentang waktu yang pendek, atau bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Ramadhan dan :ebaran. Sehingga orang kerap kali bingung bagaimana memperbaiki kesehatan keuangannya setelah lebaran usai.

Baca Juga: Ini Tips Keuangan bagi Milenial Jelang Lebaran, Jangan Lupakan Dana Darurat

Ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan untuk menata kembali keuangannya yang berantakan setelah lebaran. Perencana keuangan Agustina Fitria menjelaskan, untuk membereskan arus kas yang berantakan tahap pertama yang harus dilakukan adalah cek apakah ada utang yang dilakukan.

“Keuangan setelah lebaran harus mulai diberesin, dicek apakah keuangan tidak tertata tersebut menyebabkan ada utang. Kalau ada, harus dipikirkan untuk melunasi utangnya, harus dialokasikan dari pendapatannya untuk membayar utang,” jelas Agustina kepada Okezone.

Baca Juga: Mau Investasi Kripto? Perhatikan Dulu Risikonya

Jika ada utang, Agustina melanjutkan, seseorang otomatis harus lebih hemat dalam membelanjakan uangnya. Pengeluaran rutin jadi diperketat.

“Jika dengan berhemat masih kurang karena utang terlalu besar, berarti harus mencari alternatif penghasilan untuk menambah income. Jangan sampai keuangan yang kurang tertata ini kebawa terus sampai lebaran tahun depan, jadi harus dibereskan,” lanjutnya.

Selanjutnya, jika sudah diketahui pengeluaran lebaran tidak menyebabkan utang, maka orang harus menyamakan arus kasnya dengan bulan-bulan sebelum lebaran. Agustina mengatakan, beban keuangan setelah lebaran bagi pasangan yang sudah punya anak salah satunya adalah uang tahunan sekolah. Dia menilai jangan sampai ada tunggakan atau utang.

“Sekarang kan Mei, nanti di bulan Juni anak-anak udah mulai pembayaran uang sekolah tahunan, kebetulan sekarang waktunya berdekatan antara lebaran dan tahun ajaran baru. Seminimal mungkin jangan sampai berutang karena seringnya orang tua tuh kalau udah tahun ajaran baru suka gadai aset-aset perhiasan. Kalau bisa itu jangan sampai terjadi, harus dipersiapkan dengan matang,” terang Agustina.

Selain biaya sekolah anak, pengeluaran wajib lain yang harus diperhatikan adalah pembayaran atau pengeluaran tahunan seperti pajak kendaraan, premi asuransi, dan lain-lain. Orang harus memiliki semacam jadwal atau kalender kapan pembayaran tersebut jatuh tempo. Hal ini penting dilakukan untuk menata kembali keuangan setelah lebaran.

“Supaya tidak sampai menunggak, balik lagi semua itu kan kewajiban, jadi kita harus sudah punya gambaran ke depan pengeluaran kita apa, karena THR kemarin yang sudah keburu habis, kita sudah tahu apakah harus merogoh dana darurat atau alternatif lain dengan melakukan penghematan,” ujarnya.

Agustina menambahkan, jika kasus seseorang memiliki THR berlebih yang tidak habis dibelanjakan, uang tersebut bisa dialihkan untuk persiapan membeli hewan kurban di Idul Adha yang waktunya tidak lama lagi. Selanjutnya bisa juga dialokasikan untuk pengeluaran rutin yang wajib dan membayar utang.

Jika ternyata masih ada sisa THR, uang tersebut bisa juga digunakan untuk keperluan investasi, tentunya disesuaikan dengan profil masing-masing orang dan pertimbangan risiko. Terlepas dari itu semua, Agustina menyarankan untuk menghindari utang atau tunggakan, apalagi di tengah pandemi ini,

“Waktu pandemi ini kita semaksimal mungkin jangan berutang, karena dari sisi penghasilan kan tidak stabil terutama kita yang di swasta, kalau di pemerintahan mungkin aman-aman saja, kalau yang swasta ini kita tidak tahu kelangsungan pekerjaan atau perusahaan bagaimana, jadi diusahakan jangan berutang apalagi untuk sesuatu yang konsumtif,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini