JAKARTA - Presiden Jokowi meminta agar ekonomi Indonesia kuartal II-2021 tumbuh 7%. Pekerjaan ini memang cukup berat, apalagi pada kuartal I-2021, ekonomi Indonesia masih minus 0,74%.
Chief Economist BNI Sekuritas Damhuri Nasution memberikan analisis pergerakan ekonomi di kuartal dua ini. Pertama secara tahunan aktivitas ekonomi pada kuartal dua selalu lebih tinggi dibandingkan kuartal lainnya, karena ada panen raya komoditas tanaman bahan makanan dan perusahaan-perusahaan yang mulai merealisasikan rencana kerja yang disusun tahun sebelumnya.
Baca Juga: Jokowi Pede Ekonomi Indonesia Tumbuh 7% di Kuartal II-2021
Selanjutnya sejumlah indikator makroekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Misalnya Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) sudah di atas ambang batas 100, setelah setahun sebelumnya (April 2020 – Maret 2021) selalu di bawah 100. IKK yang di atas ambang batas 100 menunjukkan konsumen yang optimistis terhadap perekonomian lebih banyak dibandingkan dengan yang pesimis.
"Optimisme ini antara lain ditopang oleh menurunnya kasus infeksi baru covid-19, sehingga aktivitas masyarakat di luar rumah mulai meningkat," ujar Damhuri saat dihubungi Okezone di Jakarta (19/5/2021).
Baca Juga: RI Punya Tabungan Pertumbuhan Ekonomi, Bisa Sampai 7%?
Dengan konsumen yang optimistis terhadap perekonomian maupun ekonomi rumah tangganya, maka mereka akan meningkatkan konsumsinya.
Hal ini mulai terlihat pada pertumbuhan penjualan ritel yang sudah mencatat pertumbuhan positif pada bulan April, dengan pertumbuhan positif pertama sejak November 2019.
"Ini berarti konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 57% terhadap perekonomian kita akan mulai kembali mencatat pertumbuhan positif pada kuartal dua ini," terangnya.
Menurutnya, kinerja ekspor yang sudah tumbuh positif pada kuartal pertama 2021 akan terus berlanjut pada kuartal dua ini. Karena menyusul pemulihan ekonomi negara-negara mitra dagang utama kita.
"Dampaknya pada volume permintaan dan harga komoditas ekspor unggulan meningkat signifikan," tambahnya.
Kemudian belanja pemerintah baik dari APBN reguler maupun stimulus juga dilihat makin membaik. Sisi investasi juga diprediksi akan membaik sejalan dengan prospek ekonomi yang makin baik kedepan. Serta ditambah suku bunga kredit rendah dan masih dalam tren menurun.
Faktor terakhir adalah low base akibat kondisi di kuartal dua 2020 lalu, ekonomi kita mengalami kontraksi yang cukup dalam sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan tinggi di tahun ini.
"Dengan pertimbangan kondisi ini, maka kuartal dua ini ekonomi Indonesia diprediksi bisa tumbuh cukup pesat di kisaran 6% hingga 7% secara YoY," jelasnya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.