PLTP Blawan Ijen 110 Mw Beroperasi Awal 2024

Ali Masduki, Jurnalis · Kamis 10 Juni 2021 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 10 320 2423260 pltp-blawan-ijen-110-mw-beroperasi-awal-2024-GY5D5stvKL.jpg Listrik (Foto: Okezone)

SURABAYA - Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Blawan Ijen, Jawa Timur akan dilanjutkan setelah sempat terhenti akibat COVID-19. Eksplorasi pertama di jatim berkapasitas 110 megawatt (MW) ini ditargetkan beroperasi pada Januari 2024.

Sekretaris Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur, Didik Agus Wijanarko, mengatakan saat ini sudah selesai dilakukan pengeboran sumur pertama dari total empat sumur yang direncanakan dalam tahap eksplorasi.

Baca Juga: 53 Pembangkit Listrik Pakai Sistem Digital, Lebih Efisien dan Hemat Bahan Bakar

"Diharapkan sumur produksi yang akan di bor nanti mampu menghasilkan total 2x55 mw. Jadi diharapkan pembangkit listrik dari panas bumi yang ada di Belawan Ijen nanti secara keseluruhan 110 MW, tetapi pada saat serah terima nanti diharapkan minimal 30 MW," katanya disela-sela Sosialisasi Capaian Bauran Energi Baru dan Terbarukan (RUED) dan Sosialisasi Aplikasi DIMAS EBA (Digitalisasi Informasi Energi Baru dan Terbarukan), di kantor Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur, Kamis (10/6/2021).

Didik mengakui, secara keseluruhan pasokan listrik memang masih surplus. Ekplorasi PLTP tersebut selain untuk menjaga kebutuhan listrik di Jawa Timur diatas kebutuhan, juga sesuai program pemerintah untuk mengurangi pembangkit-pembangkit listrik yang berbahan bakar batu bara.

Baca Juga: Selamat Tinggal! RI Pensiunkan Pembangkit Listrik Batu Bara Mulai 2025

"Pembangkit listrik berbahan batu bara dan listrik diturunkan dan diganti dengan pembangkit listrik yang bersumber dari EBT dinaikkan. Sehingga secara keseluruhan kapasitas sama," terangnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, Drajat Irawan menegaskan bahwa pemerintah provinsi Jawa Timur terus menggali potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai cadangan masa depan kebutuhan energi Indonesia. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya semaksimal mungkin untuk mendukung percepatan peningkatan pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Jawa Timur.

Menurutnya, energi merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari, karena hampir semua aktivitas manusia memanfaatkan energi. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi serta meningkatnya jumlah penduduk, peranan energi sebagai pendukung pembangunan ekonomi menjadi sangat penting.

"Maka dalam pengelolaannya harus secara efektif, rasional, dan bijaksana agar kebutuhan energi pada masa sekarang dan masa yang akan datang dapat terpenuhi," tegasnya.

Drajat menjelaskan, kondisi saat di Jawa Timur total konsumsi energi listrik Timur sebesar 35.838 GWh. Pengguna energi listrik terbesar adalah sektor Industri mencapai 44%, selanjutnya sektor Rumah Tangga 37%, Perdagangan/usaha 13%, dan Sosial 6%.

Ketersediaan Listrik di Jawa Timur di peroleh dari Pasokan PLTU, PLTGU, dan PLTA dengan jumlah daya dari pembangkit sebesar 8.839 MW yang tersambung ke jaringan listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali) dan Beban Puncak sebesar 5.716 MW.

Sedangkan potensi energi terbarukan di Jawa Timur berdasarkan data Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), untuk panas bumi sebesar 1.012 MW, energi air 525 MW, energi angin 7.907 MW, bioenergi 3.420 MW, energi surya 10.335 MW dan energi gelombang 1.200 MW.

"Sumber daya energi tersebut merupakan aset daerah yang harus dikelola dengan baik melalui perencanaan yang baik dan tepat," kata dia.

Pada Tahun 2020 Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur telah selesai menghitung Bauran Energi Baru dan Terbarukan, dengan komposisi EBT 11,75 %, Minyak Bumi 25,61, Gas Bumi 40,60, dan Batubara 22,04%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini