Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi 4,4% di 2021, Tahun Depan Tumbuh 5%

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 17 Juni 2021 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 320 2426576 pertumbuhan-ekonomi-ri-diprediksi-4-4-di-2021-tahun-depan-tumbuh-5-LFSPaDTpQu.jpg Pertumbuhan Ekonomi RI 2021 Diprediksi 4,4%. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini pulih sebesar 4,4%. Hal tersebut didukung permintaan domestik yang membaik secara bertahap dan dampak positif dari ekonomi global yang lebih kuat.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi dapat meningkat menjadi 5,0% pada 2022, didorong oleh berkurangnya ketidakpastian dan asumsi bahwa peluncuran vaksin mencapai massa kritis populasi pada kuartal keempat tahun 2021.

Baca Juga: Menko Airlangga Yakin Ekonomi RI Tumbuh 8% di Kuartal II-2021

"Pemulihan ekonomi Indonesia hingga triwulan pertama tahun 2021 relatif bertahap meskipun indikator-indikator utama menunjukkan rebound yang lebih kuat pada triwulan kedua," tulis laporan Bank Dunia, di Jakarta, Kamis (17/6/2021).

Kesenjangan pemulihan Indonesia, perbedaan antara PDB riil dan tren sebelum krisis menyempit dari minusa 7,5% menjadi minus 7,1% antara kuartal kedua dan kuartal empat 2020 dibandingkan dari minus 13,6% menjadi minus 5,1% di antara rekan-rekan G20.

"Itu tetap tinggi di minus 7,9% selama kuartal pertama tahun ini," jelas Bank Dunia.

Baca Juga: APBN Jadi Senjata Lawan Covid-19 hingga Lindungi Orang Miskin, Sri Mulyani: Kita Terus Berikhtiar

Pada sisi positifnya, penjualan ritel meningkat sebesar 11% antara Maret dan April sementara aktivitas manufaktur terus berkembang, didorong oleh permintaan eksternal dan harga komoditas yang lebih optimis.

Respons fiskal terhadap Covid-19 kuat tetapi penyesuaian pengeluaran telah dilakukan pada tahun 2021 berpotensi karena kendala pendapatan dan pembiayaan.

Paket respons fiskal Covid -19 ditingkatkan dari 3,8 menjadi 4,5% dari PDB antara 2020 dan 2021, termasuk untuk menyediakan dana untuk kampanye vaksinasi gratis.

Tapi itu termasuk pemotongan belanja bantuan sosial sekitar 0,3 poin persentase dari PDB. Meskipun utang publik relatif rendah, ruang fiskal dibatasi oleh kombinasi basis pendapatan yang sempit dan pasar utang yang dangkal yang menyebabkan pembiayaan moneter defisit fiskal yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain.

"Namun, ketidakpastian tetap sangat tinggi dan risiko kerugian cenderung ke bawah," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini