Warga Keluhkan Beras PPKM Berkerikil, Buwas: Ngapain Bulog Kasih Batu

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 12 Agustus 2021 15:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 12 320 2454636 warga-keluhkan-beras-ppkm-berkerikil-buwas-ngapain-bulog-kasih-batu-3spsnZsV1U.jpg Bulog Bansos Beras (Foto: Perum Bulog/Okezone)

JAKARTA - Direktur Utama Bulog, Budi Waseso atau Buwas menanggapi keluhan warga perihal beras bantuan sosial (bansos) PPKM yang berkerikil yang diperoleh beberapa warga di Tasikmalaya, Jawa Barat. Jenis beras cadangan beras pemerintah (CBP) diperoleh warga saat distribusi tahap pertama.

Menurutnya, beras yang bercampur dengan kerikil hanya terjadi di beberapa karung beras saja. Artinya, tak semua beras mengalami permasalahan serupa.

Meski demikian, Buwas enggan menjelaskan letak permasalahan beras bansos PPKM yang diterima beberapa warga di kawasan tersebut. Justru, dia mengklaim kerikil yang bercampur dengan butiran beras hanya berukuran kecil saja.

“Batu kecil saja dimasalahkan. Ngapain juga Bulog kasih batu. Batunya kan bukan yang 50 persen isinya batu,” ujar Buwas saat konferensi pers di Kawasan Gedung Bulog, Kamis (12/8/2021).

Baca Juga: Buwas soal Beras PPKM: Jangan Bilang Ada Kutu, Telurnya Saja Enggak Mungkin

Manajemen menegaskan tidak ada kesalahan dengan beras bansos yang diterima sejumlah keluarga penerima manfaat (KPM) itu. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan adanya temuan beras di beberapa wilayah yang menggumpal akibat cipratan air saat proses pendistribusian.

Direktur Utama Bulog, Budi Waseso atau Buwas menyebut, meski beras yang disalurkan jenis cadangan beras pemerintah (CBP) dengan kualitas medium, namun beras tersebut tetap dijamin untuk dikonsumsi. Bahkan, Bulog menjamin tidak ada telur dan kutu yang bercampur dengan butiran beras.

Baca Juga: Anggaran Bantuan Beras PPKM Tembus Rp3,54 Triliun

"Jangan dibilang itu ada kutu, ya, telurnya aja gak mungkin. Ini supaya paham teman-teman," katanya.

Dari segi produksi beras, BUMN sektor pangan itu memiliki sistem rise to rise yang digunakan untuk mengontrol beras sebelum dikeluarkan dari gudang. Sistem tersebut menjadi standar awal perusahaan untuk mengawasi kualitas beras.

Sementara di sisi distribusi, Bulog juga memiliki sistem pengawasan yang ketat untuk menjaga kualitas pangan dasar agar tetap layak dikonsumsi. Begitu juga sistem kontrol penyaluran milik PT Pos Indonesia dan DNR Corporation yang dipercaya pemerintah sebagai agen distribusi beras PPKM.

"Jadi tidak mungkin salah, kemudian juga dengan DNR mempunyai sistem pencatatan, penerimaan, semuanya termasuk Bulog itu ada sistem pengawasan. Kalau dalam produknya ada kualiti kontrol. Standar, Bulog bilamana mengeluarkan beras CBP tidak begitu saja dikeluarkan karena harus melalui proses rise to rise, minimal," tutur dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini