Dolar Kian Tertekan Data Tenaga Kerja AS

Feby Novalius, Jurnalis · Kamis 02 September 2021 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 02 278 2464807 dolar-kian-tertekan-data-tenaga-kerja-as-ZajdYlGMx6.jpg Dolar Amerika Serikat. (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Dolar AS semakin tertekan terhadap sekeranjang mata uang utama pada perdagangan Rabu. Dolar AS melemah setelah laporan tenaga kerja AS meleset dari ekspektasi.

Sementara euro naik ke level tertinggi di tengah kekhawatiran inflasi. Euro naik 0,3% ke level USD1,1843 atau tertinggi sejak 5 Agustus.

Greenback jatuh setelah Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan bahwa gaji pekerja swasta mencapai 374.000 pada Agustus atau naik dari 326.000 dibandingkan Juli. Hanya saja data tersebut di bawah perkiraan sebesar 613.000.

Baca Juga: Dolar AS Jatuh, Harga Bitcoin Naik 0,49%

Pasar pun saat ini menantikan juga laporan tentang klaim pengangguran yang akan disampaikan pada Kamis dan pada Jumat ada laporan terkait penggajian untuk Agustus. Hal ini menjadi perhatian karena diyakini dapat memberikan petunjuk tentang kebijakan Federal Reserve.

"Tentu saja pemulihannya tidak merata tetapi jika nonfarm payrolls juga mengecewakan, itu tampaknya akan menutup pintu untuk penurunan yang akan segera terjadi dan membuat dolar sedikit melemah," kata Analis Pasar Senior Western Union Business Solutions, Joe Manimbo, dilansir dari Reuters, Kamis (2/9/2021).

Baca Juga: Dolar AS Berusaha Bangkit dari Level Terendah

Indeks dolar pun turun 0,203% dan mencapai level terendah dalam satu bulan di level 92,376. Dolar mengalami tekan setelah pada Jumat lalu, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga.

Kekhawatiran tentang meningkatnya kasus Covid-19 yang menghambat rebound ekonomi juga dapat mencegah bank sentral mengurangi stimulus.

Data lain menunjukkan aktivitas manufaktur AS meningkat lebih dari yang diantisipasi pada Agustus, tetapi ukuran pekerjaan di pabrik turun ke level terendah sembilan bulan, kemungkinan karena kekurangan pekerja.

Sementara itu, Euro naik terhadap greenback ke level tertinggi karena kekhawatiran inflasi berlanjut menyusul data inflasi zona euro meningkat menjadi 3% atau di atas perkiraan Bank Sentral Eropa sebesar 2%. Euro naik 0,3% menjadi $ 1,1843, setelah naik sebanyak 1,1857, level tertinggi sejak 5 Agustus.

"Kami telah melihat angka-angka yang menentang menjaga kebijakan begitu rendah untuk waktu yang lama dan itu telah membantu euro. Itu pasti akan meningkatkan fokus pada debat QE minggu depan ketika kami mendengar dari ECB," kata Manimbo.

Di sisi lain, Yen Jepang menguat 0,04% versus greenback di level 109,97 per dolar. Sementara sterling terakhir diperdagangkan naik 0,14% ke USD1,3773.

Dalam cryptocurrency, Bitcoin terakhir naik 2,9% menjadi USD48.521,68, sementara Ethereum terakhir naik 8,18% menjadi USD3.713,24. Ether naik setinggi USD3.791,28 atau level tertinggi sejak 16 Mei.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini