Gubernur BI Ungkap 3 Strategi Pengembangan Industri Halal di Indonesia

Anggie Ariesta, Jurnalis · Rabu 27 Oktober 2021 16:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 27 320 2492663 gubernur-bi-ungkap-3-strategi-pengembangan-industri-halal-di-indonesia-y04kyULkS6.jpg Bank Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa ada tiga strategi yang harus dilakukan untuk mengembangkan industri halal di Indonesia. Ketiga strategi tersebut adalah digitalisasi, kejelasan roadmap serta sinergi dan kolaborasi.

Berbicara dalam forum Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021, Perry mengatakan digitalisasi merupakan kunci untuk mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia termasuk industri halal.

“Jadi pandemi Covid-19 telah menyebabkan tekanan yang ekstensif dan tantangan bagi 57 negara OKI. Rantai pasok produk halal terganggu dan investasi makan halal, modest fashion dan wisata ramah islam menurun sekitar 13% year on year pada tahun lalu. Tetapi kita harus kuat dan maju dengan digitalisasi,” ujar Perry dalam Indonesia International Halal Lifestyle (Inhalife) Conference & Forum 2021 secara virtual, Rabu (27/10/2021).

Baca Juga: Gubernur BI: DP 0% Rumah dan Kendaraan Bisa Diperpanjang hingga 2023

Perry menambahkan nilai transaksi e-commerce untuk komoditas halal naik signifikan sekitar 20% yoy pada Agustus 2021 terutama didominasi oleh produk fashion.

 Dalam setiap masalah ada banyak solusi yang bisa kita formulasikan dan implementasikan. Digitalisasi adalah salah satu solusi,” kata Perry.

Menurutnya, digitalisasi membuat sistem terintegrasi yang bisa melacak dari hulu hingga hilir sehingga bisa menjamin kehalalan produk dari sisi sumber daya material bahkan bisa melacak bebas kontaminasi bahan-bahan ataupun aktivitas yang tidak halal.

Baca Juga: BI Borong SBN Rp142,7 Triliun sejak Awal Tahun

Strategi kedua yang tak kalah penting dalam pengembangan industri halal di Indonesia, menurut Perry adalah peta jalan yang jelas untuk pengembangan industri halal di Indonesia. Peta jalan ini, menurutnya, tentu saja harus didukung oleh data.

Perry mengapresiasi Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah yang telah membuat peta jalan pengembangan industri halal di Indonesia. “Road map ini sangat penting sebagai panduan bagi semua pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan, mengimplementasikan program serta memonitor indikator kemajuan industri halal di Indonesia,” ujar Perry.

Perry berharap roadmap ini menjadi tonggak yang penting untuk mencapai visi Indonesia sebagai pusat industri halal global. Untuk mendukung ketersediaan data, Bank Indonesia akan meluncurkan Halal Market Report yang akan diluncurkan dalam forum ISEF ini.

“Laporan ini memberikan kita berbagai informasi tentang potensi industri halal Indonesia, tantangan dan keunggulan kompetitif serta posisi pasar halal global serta membuka peluang perdagangan dan investasi di Indonesia,” ujar Perry.

Strategi ketiga adalah sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, otoritas, pelaku industri halal serta masyarakat. Sinergi dan kolaborasi, jelas Perry sangat penting untuk mempromosikan pengembangan industri halal di Indonesia.

“Bersama kita mencapai lebih, bersama kita bisa. Inilah yang menjadi semangat kami dan bank Indonesia menggunakannya sebagai tagline untuk tumbuh bersama industri,” ujar Perry.

 Semangat kolaborasi ini, menurut Perry telah membuahkan hasil yang baik. Pada kuartal kedua lalu, industri halal Indonesia tumbuh 8,2% yoy lebih tinggi dari pertumbuhan PDB Indonesia pada periode yang sama yang mencapai 7,07%.

Sektor yang menopang pertumbuhan industri halal ini adalah makanan halal, fesyen muslim dan pariwisata ramah islam.

“Tetapi tentu saja kita harus melakukan lebih lagi. Kami percaya, bersama kita bisa tumbuh bersama industri. Ini menjadi semangat yang terus-menerus kami pegang untuk memajukan ekonomi dan keuangan syariah di negara dengan populasi islam terbesar dunia ini,” pungkas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini