Share

Bos Garuda Nego Utang Rp139 Triliun agar Tak Bangkrut

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 18 November 2021 10:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 278 2503603 bos-garuda-nego-utang-rp139-triliun-agar-tak-bangkrut-lAaVGXiV5f.jpg Garuda Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, mencapai sejumlah kesepakatan restrukturisasi utang dengan kreditur. Hasil kesepakatan itu pun disampaikan manajemen kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari Keterbukaan Informasi BEI, manajemen Garuda Indonesia tidak merinci lebih jauh kreditur mana saja yang telah menyetujui proposal restrukturisasi yang diajukan emiten dengan kode saham GIAA itu. Perusahaan pelat merah ini tercatat memiliki kreditur lokal dan global.

Setidaknya, ada 11 kreditur lokal yang berasal dari sektor perbankan, pengelolaan bandara, hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Baca Juga: Terungkap! Garuda Indonesia Punya Utang Rp290 Miliar ke AP I

Adapun hasil negosiasi dan kesepakatan Garuda dengan para kreditur diantaranya, penangguhan pokok dan bunga oleh kreditur perbankan, restrukturisasi utang tertunggak selama 2020 yang dibayarkan dengan cicilan balloon payment sampai dengan 2023 oleh kreditur bisnis.

"Terkait dengan KIK EBA, telah dilakukan penangguhan sebagian kewajiban pembagian pendapatan penjualan tiket ke-36 sampai dengan 3 Desember 2021 atau tanggal yang disesuaikan kemudian dengan Manajer Investasi (MMI)," demikian keterangan Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, Kamis (18/11/2021).

perusahaan sebelumnya telah melakukan perpanjangan masa jatuh tempo sukuk hingga 2023 mendatang dari waktu jatuh tempo yang semula pada 3 Juni 2020.

Adapun pada tahun ini, perusahaan juga melakukan penangguhan pembayaran jumlah pembagian berkala (kupon sukuk). Bahkan, tengah melakukan negosiasi lebih lanjut dengan para pemegang sukuk sebagai bagian dari upaya restrukturisasi.

Baca Juga: Penerbangan Garuda Indonesia Bakal Langka, Bisnis AP I Ikutan Rugi

"Ini yang sedang dilakukan oleh perseroan selaras dengan langkah perbaikan kinerja yang terus dioptimalkan perseroan," katanya

Terkait EDC, telah dilakukan penangguhan pokok dan bunga periode Juni 2020 sampai dengan waktu yang akan disepakati, bersamaan dengan persetujuan rencana restrukturisasi, perseroan terus melakukan komunikasi intensif serta negosiasi kepada kreditur dan lessor.

Khusus untuk lessor, negosiasi dilakukan guna mencapai kesepakatan mengenai restrukturisasi biaya sewa dengan skema PBH seperti yang telah didiskusikan manajemen sebelumnya.

"Dengan para kreditur lainnya, Perseroan saat ini dalam proses pemaparan initial proposal restrukturisasi secara bertahap dan berdiskusi lebih lanjut guna memperoleh kesepakatan," tutur Irfan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini