Share

3 Indikator Ekonomi dan Perdagangan Indonesia Telah Bangkit

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Sabtu 20 November 2021 10:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 20 320 2504704 3-indikator-ekonomi-dan-perdagangan-indonesia-telah-bangkit-BUuhh7aU89.jpg Kebangkitan Ekonomi dan Perdagangan Indonesia. (Foto: Okezone.com/Pelindo)

JAKARTA - Indonesia berhasil melakukan pemulihan ekonomi dan perdagangan nasional. Pemulihan perdagangan Indonesia dapat dilihat dari tiga indikator.

Pertama, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia kembali tumbuh positif pada kuartal III/2021 sebesar 3,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kedua, pertumbuhan sektor perdagangan di dalam negeri juga terjadi seiring menguatnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Triwulan III 2021. Pada September 2021, IKK mencapai 95,5 atau naik dari Agustus 2021 sebesar 77,3.

Sementara itu, pada Oktober 2021, IKK kembali menguat dan mencapai 113,4 atau berada pada area optimis. Kenaikan IKK dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas ekonomi dan penghasilan masyarakat setelah adanya relaksasi kebijakan PPKM Darurat ke PPKM level 1-3.

Baca Juga: PPKM Level 3 di Libur Nataru Bikin Pengusaha Bingung

Ketiga, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Oktober 2021 yang mencapai USD30,81 miliar. Surplus ini didukung kinerja ekspor Indonesia sebesar USD186,32 miliar atau tumbuh 41,8% YoY pada Januari-Oktober 2021. Ekspor nonmigas juga tumbuh signifikan sebesar 41,26% YoY pada periode yang sama.

Sementara itu, dari sisi impor, juga tercatat pertumbuhan sebesar 35,86% YoY. Nilai tersebut didominasi bahan baku dan barang modal sebesar 89,91% yang tentu akan mendorong pemulihan kesehatan dan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

"Secara bulanan, ekspor Indonesia pada Oktober 2021 kembali memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah yaitu mencapai USD22,03 miliar," ujar Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan, Sabtu (20/11/2021).

Baca Juga: Ancaman Ekonomi di 2022, Menko Airlangga: Seperti Tikungan di Sirkuit Mandalika

Selain itu, dari sisi negara tujuan dan produk ekspor nonmigas, hampir seluruh negara tujuan utama dan seluruh produk utama juga tumbuh positif selama periode Januari-Oktober 2021. Bahkan, secara khusus untuk neraca perdagangan dengan China, Indonesia mencetak rekor surplus perdagangan bulanan pada Oktober sebesar USD1,60 miliar, dengan surplus non migas sebesar USD1,32 miliar.

"Ini adalah surplus terbesar dalam 10 tahun terakhir," ungkap Kasan.

Kasan mengungkapkan, peluang dan tantangan perdagangan dalam dan luar negeri ke depan akan semakin kompleks. Beberapa hal yang akan mempengaruhi pemulihan perdagangan pada 2021-2022, yaitu isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), ekonomi digital, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, kenaikan harga pangan, dan tren supercycle commodity.

Menurut Kasan, Kementerian Perdagangan mengantisipasi dan merespon peluang dan tantangan pemulihan ekonomi dengan analisis dan rekomendasi kebijakan yang disusun BPPP.

Tiga hasil analisis terpilih pada 2021 tersebut, yaitu analisis pelaksanaan pengawasan barang beredar dan jasa di daerah paska implementasi UU Pemerintahan Daerah, analisis proyeksi target ekspor produk rempah-rempah sebagai dukungan untuk program “Indonesia Spice Up the World”, serta analisis kebijakan jaringan produksi global (g/oba! value chain/GVC) sektor strategis Indonesia di kawasan G20.

"Tiga judul analisis BPPP yang didiseminasikan pada kesempatan ini disusun untuk mendukung kebijakan Kementerian Perdagangan dalam melakukan terobosan untuk menjaga momentum pemulihan perdagangan Indonesia di tahun 2021 dan 2022," jelas Kasan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini