Bos LPS Tak Khawatir Kenaikan Suku Bunga The Fed, Ini Alasannya

Rina Anggraeni, Jurnalis · Senin 22 November 2021 19:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 22 320 2505776 bos-lps-tak-khawatir-kenaikan-suku-bunga-the-fed-ini-alasannya-PTg1bQ7LXJ.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone/Shutterstock)

JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut tidak perlu khawatir adanya kenaikan The Fed.

Menurutnya, apabila dicermati data siklus bisnis AS dengan siklus bisnis Indonesia, secara historis terdapat korelasi yang positif. Ekspansi ekonomi yang positif di AS akan diikuti pula oleh ekspansi ekonomi di Indonesia.

"Jadi, saat ekonomi AS pulih dari resesi dan tumbuh positif, maka dampaknya akan positif pula kepada Indonesia, pengalaman yang lalu di Indonesia pasca The Fed pertama kali menaikkan The Fed rate pada Desember 2015, kebijakan moneter nasional bisa tetap suportif dan akomodatif," kata Purbaya di Jakarta, Senin (22/11/2021).

Baca Juga: Gandeng Kemenkeu, LPS Lelang Aset-Aset Bank

Maka itu, Indonesia tidak perlu khawatir dengan tapering dan potensi kenaikan The Fed rate di tahun 2022. Karena kebijakan yang akomodatif, baik di sisi fiskal maupun moneter akan mampu menjaga pemulihan ekonomi nasional untuk tetap solid di tahun 2022.

“Namun demikian, kita harus tetap waspada dan tidak boleh lengah dalam mengantisipasi berbagai faktor ketidakpastian yang masih membayangi pemulihan ekonomi global. Beberapa faktor tersebut antara lain adanya mutasi varian baru COVID-19 seperti varian Delta Plus, energy crunch, dan supply chain constraint di beberapa negara maju,” bebernya.

Baca Juga: Waspada! Penipuan Investasi Atas Nama LPS

Selanjutnya dia menjelaskan, jika melihat dinamika global, The Fed beberapa minggu yang lalu telah mengumumkan bahwa akhir November ini akan mulai melakukan pengurangan pembelian US Treasury sebanyak USD10 miliar dan mortgage-backed securities sebanyak USD5 miliar setiap bulannya secara gradual.

"Hal ini menurutnya memang mengawali proses tapering di Amerika Serikat (AS), namun bukan berarti tiba-tiba kebijakan moneter AS menjadi kontradiktif," katanya.

Sebaliknya, kebijakan moneter AS tetap akomodatif, hanya saja level ekspansi moneternya dikurangi secara perlahan.

“Selain itu, The Fed telah dengan baik mengkomunikasikan kebijakan ini jauh sebelum bulan November dan pasar sudah merespon dengan baik, sehingga efek tantrum secara global tidak terjadi seperti pada tahun 2013 yang lalu. Dan Gubernur The Fed Jerome Powell juga menyatakan bahwa tapering ini tidak akan diikuti dengan peningkatan The Fed rate dalam waktu dekat,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini