Share

IATA Masuk Bisnis Batu Bara, Hary Tanoesoedibjo: Potensinya Bagus

Azhfar Muhammad, Jurnalis · Rabu 01 Desember 2021 17:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 01 278 2510368 iata-masuk-bisnis-batu-bara-hary-tanoesoedibjo-potensinya-bagus-YBZoUdjNkG.jpg Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo. (Foto: Okezone.com/MPI)

JAKARTA - PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dengan PT MNC Investama Tbk (BHIT) untuk mengakuisisi 99,33% saham PT Bhakti Coal Resources (BCR). Setelah transaksi, IATA akan menjadi entitas induk untuk seluruh perusahaan batu bara MNC Group.

Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan, prospek bisnis transisi batu bara di Indonesia cukup besar untuk saat ini.

Baca Juga: IATA Akan Disuntik Aset Senilai USD181,9 Juta

“Untuk bisnis batu bara ya harganya saat ini sedang bagus-bagusnya. Di mana dalam quartal ke tiga dan keempat ini tertinggi dalam sejarah jadi kami melihat potensi cadangannya cukup besar, potensinya bagus dan produksinya sangat besar,” kata Executive Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo kepada MNC PORTAL, Rabu (1/12/2021).

IATA sebelumnya bergerak di bisnis air transport. Di mana pada masa pandemi ini sangat terdampak.

Baca Juga: IATA Pastikan Operasional Tetap Berjalan di Tengah Covid-19

“Jadi di masa pandemi kita tahu bahwa sebelumnya di dalam negeri maupun luar negari dan ini saya rasa akan mengubah IATA yang sangat luar biasa dan ini untuk lebih maju berkembang lagi karena momentumnya pas dan core bisnisnya nanti batu bara,” urainya.

Popularitas industri batu bara nasional diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan lonjakan harga batu bara, yang didorong oleh pemulihan ekonomi dunia termasuk China, India, Korea Selatan, serta Eropa yang mengarah pada peningkatan produksi industri sehingga meningkatkan permintaan energi.

“Ke depan, kalau cocok ya ada kemungkinan untuk akuisisi (perusahaan baru bara) lainnya tapi kami menegaskan sekarang konsentrasinya untuk meningkatkan produksi batu bara yang ada ini ada 9 perusahaan tapi baru dua yang produksi. Maka kami konsen di sini untuk ditingkatkan dan ada perubahan bisnis model terkait,” pungkasnya.

Sebagai catatan, Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Pada saat yang sama, Indonesia merupakan negara berkembang yang masih membutuhkan energi murah untuk pembangunan dan konsumsi.

“Kami optimis, melalui kerjasama ini yang sekarang kita sudah produksi dan cadangannya besar punya upside tersendiri dan tentunya ke depan kesempatan yang lebih besar lagi,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini