Share

Pasar Saham di 2022 Bisa Gacor, Kuncinya Covid-19 Tak Merajalela Lagi

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Jum'at 31 Desember 2021 14:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 31 278 2525535 pasar-saham-di-2022-bisa-gacor-kuncinya-covid-19-tak-merajalela-lagi-llYQqZKkWA.jpg Indeks Harga Saham Gabungan 2022 (Ilustrasi: Antara)

JAKARTA Pasar modal Indonesia tahun depan masih dihantui ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi Covid-19. Namun, pelaku pasar masih menaruh optimisme pertumbuhan positif di pasar modal.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Alwin Rusli meyakini prospek pasar saham Indonesia pada 2022 akan semakin membaik jika pandemi Covid-19 tak merebak kembali seperti hampir dua tahun terakhir yang mengakibatkan ekonomi mengalami resesi.

Baca Juga: IHSG 2021 Naik 10,07%, Sri Mulyani: Ini Modal Memasuki 2022 yang Optimis

Menurutnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) diharapkan dapat naik sampai ke atas 7.000. Bila tidak ada aral melintang dan kasus Covid-19 di Tanah Air dapat terkontrol dengan baik, maka dapat dipastikan pertumbuhan ekonomi akan melaju dengan mulus dan dapat mencapai 5%.

”IHSG saya perkirakan akan mencapai rentang 7.000 - 7.500 apabila melihat kondisi kinerja emiten-emiten yang sudah mulai pulih. Hal ini tentu dengan satu kondisi, yaitu tidak ada sentimen negatif yang tidak terkontrol, salah satunya yaitu kembali merebaknya kasus Covid-19," ujar Alwin.

Dengan membaiknya kondisi ekonomi, Alwin menilai sektor perbankan akan menikmati dampak tersebut lebih awal. Sebab pada masa pemulihan, berbagai bisnis membutuhkan modal, dan hal yang pertama dicari oleh pelaku usaha tentunya adalah institusi bank terlebih dahulu untuk memperoleh dana segar.

Baca Juga: BEI: IHSG Melesat 10,4% hingga 54 Emiten IPO Raih Rp62,6 Triliun di 2021

Di samping itu, lanjut Alwin, dengan memperhatikan pergerakan ekonomi dunia pada saat ini di mana terjadi kelangkaan terhadap komoditas hampir di seluruh dunia, maka sektor-sektor tambang, termasuk metal dan energi khususnya batubara masih memiliki potensi untuk menguat.

”Tidak ketinggalan juga sektor teknologi yang belakangan ini bergeliat sebagai dampak dari perkembangan teknologi yang terjadi selama pandemi Covid-19, di mana banyak dari para individu-individu yang mengadopsi dan bergantung sangat erat dengan teknologi," kata Alwin.

Terkait dengan potensi penawaran umum perdana saham atau IPO pada tahun depan, Alwin menyampaikan dengan adanya akses IPO secara elektronik, maka tentunya akan mengundang banyak perusahaan-perusahaan untuk memperoleh dana segar dengan cara "go public". 

Potensi IPO pada 2022 pun diperkirakan akan semakin marak."Fenomena IPO yang terjadi belakangan ini terbilang sukses karena dari sudut pandang para emiten berhasil memperoleh dana dari masyarakat sesuai dengan harapan para emiten tersebut, terpancar dari tingkat book building yang sering kali terjadi oversubscribe," ujar Alwin.

Namun demikian, menurut Alwin beberapa emiten tidak menjaga harga sahamnya di perdagangan sekunder. Hal itu dinilai akan memberi rasa enggan bagi para investor ritel untuk menginvestasikan dana mereka ke dalam saham-saham yang baru akan IPO. Sementara itu dengan adanya emiten jumbo yang kembali muncul di panggung e-IPO seperti GoTo, tentunya akan kembali menarik minat masyarakat untuk berinvestasi kembali karena potensi pertumbuhan dari perusahaan yang sangat menarik.

Dari global, kebijakan tapering dan rencana percepatan kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve akan berdampak pada pasar saham Indonesia, meski diperkirakan tidak akan besar. Bank Indonesia selaku otoritas moneter pun diperkirakan juga akan sigap mengambil keputusan untuk menanggulangi ketertinggalan ekonomi dengan negara-negara lain akibat dampak dari kebijakan The Fed tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini