Share

Menko Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi Dipatok 5,2% Tahun Ini

Michelle Natalia, Sindonews · Selasa 25 Januari 2022 11:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 25 320 2537357 menko-airlangga-pertumbuhan-ekonomi-dipatok-5-2-tahun-ini-KnK05WGrNt.jpg Menko Airlangga patok pertumbuhan ekonomi 2022 5,2% (Foto: Kemenko Perekonomian)

JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemulihan ekonomi terus dijaga. Salah satunya dengan perbaikan dan peningkatan efektivitas dalam penanganan Covid-19 melalui strategi hulu dan hilir.

Tercatat kasus aktif di Indonesia terus dijaga dengan tingkat kesembuhan 96,4%. Namun, pihaknya terus waspada dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) mengingat kenaikan kasus varian Omicron yang secara global telah melanda berbagai negara di dunia.

Baca Juga: Gubernur BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi Global Capai 4,4% di 2022

"Pengendalian pandemi yang efektif tentunya terbukti menjadi kunci bagi pemulihan ekonomi, pandemi yang terkendali mendorong confidence atau keyakinan, dan mobilitas penduduk yang akan membuat ekonomi tumbuh di kuartal III lalu sebesar 3,51% dan kuartal IV diproyeksikan tumbuh antara 4,5-5%," ungkap Airlangga dalam Indonesia Economic Outlook 2022 yang digelar oleh HIPMI secara hybrid pada Selasa(25/1/2022).

Baca Juga: Luhut Wanti-Wanti Kasus Omicron Bisa Memperlambat Pemulihan Ekonomi

Airlangga mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di 2022 ditargetkan hingga 5,2% dan penanganan COVID-19 serta pemulihan ekonomi akan menentukan pencapaian target tersebut.

"Oleh karenanya, kerja sama antar stakeholders sangat diperlukan dan ini menjadi kunci bagi pemulihan dan mendorong pembangunan ke depan," tambahnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Airlangga menyampaikan bahwa ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan seperti varian-varian baru Covid-19, distribusi vaksin global yang belum merata, pelemahan ekonomi akibat kebijakan terutama di China yang mendorong pertumbuhan tinggi ke arah pemerataan, terjadi krisis energi, dan krisis properti evergrande.

"Serta risiko yang mempengaruhi capital outflow seperti kenaikan suku bunga di AS dan terkait dengan situasi-situasi tersebut, kita perlu merespons secara fleksibel dan adaptif," tegasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini