Share

Gubernur Bank Sentral Siap Hadapi Krisis akibat Sanksi ke Rusia

Antara, Jurnalis · Jum'at 22 April 2022 08:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 22 320 2583252 gubernur-bank-sentral-siap-hadapi-krisis-akibat-sanksi-ke-rusia-E7Kaha0wsx.png Gubernur Bak Sentral Rusia Elvira Nabiullina. (Foto: Okezone.com/Reuters)

MOSKOW - Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina mendapat beban besar di masa jabatan barunya. Pasalnya Elvira harus menghadapi krisis ekonomi karena ketidakpastian terkait sanksi Barat.

Mayoritas anggota parlemen di majelis rendah parlemen Rusia pada Kamis (21/4/2022) mendukung penunjukan kembali Nabiullina sebagai Kepala Bank Sentral, mendukung pilihan yang dibuat oleh Presiden Vladimir Putin.

Nabiullina sekarang harus mengarahkan ekonomi yang bergantung pada komoditas melewati kontraksi tertajamnya sejak tahun-tahun setelah jatuhnya Uni Soviet pada 1991, memerangi inflasi yang meningkat bulan ini ke level tertinggi 20 tahun sebesar 17,62%. 

Baca Juga: Sri Mulyani Soroti Krisis Pangan Akibat Perang di IMF-World Bank Spring Meetings 2022

Nabiullina mengatakan kepada anggota parlemen pada Kamis (21/4/2022) bahwa tugas prioritasnya adalah mengamankan ketersediaan sumber daya keuangan untuk transformasi struktural ekonomi yang akan segera terjadi.

"Tugas kita adalah memastikan bahwa ekonomi kita kompetitif. Dalam pandangan saya, kita tidak perlu mengejar kebijakan isolasi diri ke segala arah," kata veteran bank sentral berusia 58 tahun itu kepada majelis rendah parlemen, Dumam, dikutip dari Antara, Jumat (22/4/2022).

"Memerangi inflasi juga merupakan tugas terpenting, yang tidak ditinggalkan siapa pun," tuturnya.

Baca Juga: Imbas Perang, Ekspor RI ke Rusia dan Ukraina Anjlok

Bank sentral akan mempertimbangkan untuk memangkas suku bunga utama dari 17% pada pertemuan dewan mendatang, kata Nabiullina, mengulangi niatnya untuk mengembalikan inflasi ke target 4,0 persen pada 2024 dan menandai tantangan ekonomi yang akan dihadapi Rusia.

"Nabiullina menghadapi masa sulit lainnya, tidak diragukan lagi," kata Tatiana Orlova, ekonom pasar berkembang terkemuka di Oxford Economics.

Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi bank sentral, termasuk kapan dan bagaimana mencabut kontrol modal, serta kemungkinan kebutuhan untuk rekapitalisasi beberapa bank Rusia.

"Jadi singkatnya, Gubernur CBR telah menyelesaikan pekerjaannya untuknya. Saya tidak ingin berada di posisinya sekarang," kata Orlova.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Nabiullina, seorang ekonom dan mantan penasihat Kremlin yang menjadi wanita pertama memimpin bank sentral Rusia, mendapat dukungan kuat dari Putin yang telah berulang kali memujinya dalam peran tersebut sejak mengangkatnya pada 2013.

Dihormati secara luas sebagai salah satu bankir sentral top dunia, sebagian karena upayanya untuk mengendalikan inflasi, Nabiullina menjadi sasaran sanksi pada April sebagai bagian dari hukuman Barat terhadap Rusia atas apa yang disebutnya "operasi militer khusus" di Ukraina, yang dimulai pada 24 Februari.

Sanksi juga telah membekukan hampir setengah dari cadangan emas dan valas Rusia senilai 640 miliar dolar AS yang dikendalikan oleh bank sentral, mendorong pelarian modal dari Rusia dan mendorongnya menuju kemungkinan gagal bayar utang, sementara menghambat akses negara itu ke perdagangan global dan sistem keuangan.

"Oleh karena itu CBR akan memiliki tugas membangun kembali penyangga valas negara, sementara menghadapi tantangan untuk menginvestasikannya ke dalam aset yang akan terlindungi dengan baik dari penyitaan oleh AS dan sekutunya," kata Orlova.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini