Share

Laba Semen Baturaja (SMBR) Anjlok 46,9% di Kuartal I-2022

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Kamis 28 April 2022 13:57 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 28 278 2586661 laba-semen-baturaja-smbr-anjlok-46-9-di-kuartal-i-2022-IbuGtYmkzm.jpg Laba Semen Baturaja alami penurunan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp9,5 miliar pada kuartal I 2022. Laba SMBR anjlok 46,9% dibandingkan periode sama tahun 2021 yang terbilang Rp17,975 miliar.

Akibatnya, laba per saham dasar turun ke level Rp1, sedangkan di akhir Maret 2021 tercatat di level Rp2. Sementara pendapatan tumbuh menjadi Rp416,23 miliar yang ditopang penjualan semen bungkus Rp363,83 miliar atau tumbuh 6,14% dibandingkan kuartal I 2021 yang tercatat sebesar Rp342,76 miliar.

Tapi penjualan semen curah turun 21,3% menjadi Rp42,776 miliar. Namun beban pokok penjualan membengkak 7,2% menjadi Rp222,62 miliar, dampaknya laba kotor turun 1,5% menjadi Rp193,6 miliar.

Terlebih, beban usaha membengkak 9,3% menjadi Rp141 miliar, akibatnya laba usaha turun 21,21% menjadi Rp52,46 miliar. Sementara itu, aset perseroan tumbuh 0,8% menjadi Rp5,867 triliun karena kewajiban membengkak 1,6% menjadi Rp2,389 triliun.

Tahun ini, perseroan menargetkan volume produksi perseroan bakal kembali ke level sebelum pandemi. Sekretaris Perusahaan Semen Baturaja, Doddy Irawan seperti dikutip bisnis pernah mengatakan, total volume produksi sepanjang tahun lalu sebesar 1,96 juta ton, naik tipis dari capaian 2020 sebesar 1,93 juta ton. Tercatat volume produksi SMBR pada 2019 sebesar 2,11 juta ton. Artinya, untuk mencapai angka tersebut, pertumbuhan produksi pada tahun ini paling tidak sebesar 7,65%.

Doddy mengatakan, pertumbuhan permintaan yang didorong alokasi anggaran pemerintah untuk pembangunan infrastruktur akan mengerek kinerja produksi perseroan pada tahun ini.

"Proyeksi produksi semen SMBR pada 2022 akan tumbuh seiring pertumbuhan demand. Asumsinya ada peningkatan permintaan semen dan alokasi pendanaan pemerintah untuk infrastruktur yang cukup besar," kata Doddy.

Sementara itu, tantangan industri semen pada tahun ini masih seputar oversuplai yang menyebabkan persaingan antarprodusen semakin ketat. Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) Oey Marcos sebelumnya juga mengatakan kondisi oversuplai menyebabkan tingkat utilitas rata-rata pabrikan berkisar 55% hingga 60%.

"Tentunya hal ini [oversuplai semen] menyebabkan persaingan menjadi sangat ketat," ujarnya.

Sepanjang tahun lalu perseroan mencatatkan penjualan semen sebesar 17 juta ton, naik sekitar 3% dibandingkan capaian 2020. Oey mengatakan tahun ini pihaknya membidik pertumbuhan yang hampir sama di kisaran 3% hingga 4%. Adapun, menurut catatan terbaru Asosiasi Semen Indonesia (ASI), rata-rata utilitas kapasitas produksi sepanjang 2021 masih berkisar 67% dengan kelebihan kapasitas sekitar 38 juta ton.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini