Sedangkan pendapatan perseroan di segmen Reseller turun 6% menjadi Rp176 miliar, dari sebelumnya Rp188 miliar. Hendra menerangkan hal ini dipicu oleh akuisisi tower reseller 798 menara dari Telkom pada Agustus 2021 yang memindahkan pendapatan reseller yang ada dari menara terkait ke pendapatan menara yang dimiliki.
Peningkatan kinerja Mitratel tergambar pada laba operasi yang meningkat sekitar 33% menjadi Rp814 miliar per Maret 2022, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp612 miliar.
Selanjutnya, EBITDA Mitratel juga bertumbuh sebesar 28,8% yoy , dari Rp1,12 triliun per Maret 2021 menjadi Rp1,44 triliun pada Maret 2022. Ini diikuti oleh marjin EBITDA Perseroan sebesar 77,1% yang meningkat 4.4 basis poin dibandingkan tahun lalu 72,7%.
“Perkembangan atas EBITDA Mitratel tercermin pada peningkatan profitabilitas dengan efisiensi biaya pada kegiatan usaha,” katanya.
Hingga akhir Maret 2022, total aset Mitratel mencapai Rp57,481 triliun, turun 0,4% dari periode sama tahun lalu Rp57,728 triliun. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh pembayaran lebih awal utang jangka panjang sebesar Rp3,5 miliar yang berdampak pada penurunan kas yang tersedia.
Demikian pula total liabilitas Perseroan pada akhir Maret 2022 turun 2,9% menjadi Rp23,374 triliun menurun sebanyak 2,9%, terutama karena pembayaran lebih awal utang jangka panjang.
Sedangkan ekuitas Mitratel dibukukan bertumbuh sebanyak 1,4% menjadi Rp34,10 triliun terutama disebabkan oleh tambahan laba ditahan dari laba bersih selama triwulan I 2022.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)