Share

Resesi Ekonomi Bikin Panik! IHSG, Rupiah hingga Emas dalam Tekanan Hebat

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Senin 13 Juni 2022 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 13 278 2610376 resesi-ekonomi-bikin-panik-ihsg-rupiah-hingga-emas-dalam-tekanan-hebat-q8xeVW9WTg.jfif Waspada Resesi Ekonomi Dunia. (Foto: Okezone.com/Freepik)

MEDAN - Kinerja saham global pada akhir pekan kemarin dalam tekanan besar. Hal tersebut seiring dengan kekhawatiran munculnya resesi dan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The FED.

The FED sendiri diperkirakan akan menaikkan bunga acuannya di pekan ini sebesar 50 basis poin, menjadi 1,5%.

Menurut Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin, ekspektasi tersebut bukan tanpa alasan. Realisasi laju tekanan inflasi di AS yang mencapai 8,6% (YoY) di Mei 2022, membuat The FED tetap akan lebih agresif dalam menaikkan besaran bunga acuannya.

Baca Juga: IMF Segera Turunkan Lagi Proyeksi Ekonomi Dunia, Jadi Berapa?

"Karena realisasi data inflasi tersebut lebih besar dari perkiraan sebelumnya sebesar 8,3%. Berdasarkan rilis data inflasi tersebut, bursa saham di AS maupun di Eropa bertumbangan akhir pekan kemarin," tulis Gunawan dalam keterangannya, Senin (13/6/2022).

Sementara itu IHSG dan Rupiah diperkirakan akan menyusul selama sepekan ke depan. Tekanan demi tekanan akan kembali menghantam pasar keuangan global tanpa terkecuali pasar keuangan kita.

"Terlebih dalam sepekan ke depan, rilis data ekonomi yang seharusnya menopang laju pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan memburuk," jelasnya.

Gunawan menyebutkan, hanya sentimen teknikal yang berpeluang membalikan keadaan.

Baca Juga: Waspada! OECD Turunkan Prediksi Ekonomi Dunia Jadi 3%

"Artinya bisa saja disaat tertentu pasar keuangan berbalik menguat, tetapi itu lebih dikarenakan faktor teknikal. Kewaspadaan perlu ditingkatkan, karena selain The FED yang diperkirakan akan menaikkan bunga acuan, Bank Sentral Inggris atau BoE juga akan menaikkan besaran bunga acuannya. Diperkirakan akan naik sebesar 25 basis poin," sebutnya.

Yang tak kalah penting, kata Gunawan, bukan hanya kewaspadaan dengan kebijakan besaran bunga acuan saja. Apa yang menjadi pertimbangan Gubernur Bank Sentral AS dalam testimoninya akan turut mempengaruhi perkembangan kinerja pasar keuangan ke depan.

"Karena, gambaran ekonomi yang disampaikan jauh lebih berpengaruh terhadap kinerja pasar keuangan untuk waktu yang lebih lama," tukasnya.

Sejauh ini pelaku pasar tengah mengkhawatirakan tingginya laju tekanan inflasi, yang dibarengi dengan kebijakan menaikkan bunga acuan akan menggiring ekonomi masuk dalam jurang resesi.

"Semakin ke sini gambaran tersebut semakin nyata. Tekanan pasar selama sepekan ke depan juga bisa diminimalisir dengan sikap Bank Indonesia yang saya perkirakan akan bernada hawkish, atau cenderung bersikap untuk menaikkan besaran bunga acuan BI 7 DRR," jelasnya.

Dari gambaran kinerja pasar keuangan kita di akhir pekan ini. Kinerja mata uang Rupiah terpantau melemah di kisaran USD14.615 per. IHSG melemah di level 7.086. Sementara harga emas berada dikisaran USD1.872 per ounce.

"Waspadai batas resistensi untuk Rupiah di level Rp14.670 yang bisa saja jebol, IHSG yang bisa saja menembus level psikologis 7.000 atau harga emas yang berpeluang digiring dikisaran support USD1.830," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini